Oleh Asrianda, Dosen Universitas Malikussaleh
Di kampus ternama kota petro dolar, ada satu tradisi tak tertulis setiap musim durian: para dosen dan mahasiswa akan membentuk “lingkaran ilmiah” di kantin belakang, sambil membedah buah durian layaknya membedah teori di ruang kuliah. Dan di tengah lingkaran itu, biasanya ada satu sosok yang jadi bintang, Pak Bram, dosen yang katanya “hampir” jadi profesor.
Ceritanya, suatu sore yang mendung, Pak Bram duduk manis dengan segelas air putih. Namun itu bukan air biasa, itu adalah air yang disiram ke kulit durian, lalu diminum dengan penuh keyakinan. “Ini rahasia menjaga wibawa akademis setelah makan durian,” ucapnya sambil menatap jauh, seperti sedang mengutip filsuf Yunani.
Isu pun menyebar secepat gosip seminar nasional. Katanya, air kulit durian bukan hanya menghilangkan bau mulut, tapi juga menurunkan kolesterol, menaikkan semangat riset, bahkan—entah dari mana sumbernya, bisa bikin kata-kata dosen terdengar lebih manis.
Tak heran, minggu berikutnya banyak yang ikut mencoba. Ada mahasiswi muda cantik yang ikut minum dengan harapan auranya makin memesona. Ada pula ibu-ibu dosen yang yakin efeknya bisa membuat kulit glowing dan suara lebih lembut saat rapat senat.
Yang paling mengejutkan adalah munculnya seorang dosen terkenal flamboyan—julukan mahasiswa: “playboy akademis” yang ikut minum air kulit durian. Katanya, ini supaya ucapannya di rapat dosen terdengar bak pujangga, bukan seperti pengacara yang sedang sidang sengketa tanah.
Kantin kampus berubah seperti laboratorium dadakan. Meja-meja dipenuhi kulit durian kosong, gelas plastik, dan tumpukan biji durian yang entah akan diapakan. “Ini bukan makan, ini riset kolaboratif,” kata Pak Bram sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya.
Namun tak semua senang. Bagian keuangan kampus mulai resah. “Kalau semua dosen minum air kulit durian tiap hari, budget kopi dan teh bisa tersingkir,” protes bendahara. Seorang staf administrasi bahkan membuat simulasi anggaran: satu semester butuh 2 ton durian.
Pak Bram mencoba diplomasi. Ia mengusulkan sponsor dari kebun durian lokal. “Kita bisa branding ini sebagai ‘Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Buah Lokal’,” ujarnya penuh semangat. Sayangnya, usulan itu terhenti karena rektor takut media akan salah paham dan menuduh kampus sedang membuka jurusan baru: S1 Ilmu Durian.
Walau begitu, pengaruh Pak Bram tak terbendung. Mahasiswa tingkat akhir mulai bertanya apakah minum air kulit durian bisa membantu mempertajam ide skripsi. “Bisa,” jawabnya santai, “asalkan ide itu sudah ada sebelum durian datang.”
Cerita ini mencapai puncaknya ketika satu majalah ilmiah luar negeri menolak artikel Pak Bram dengan alasan terlalu banyak metafora buah dalam pendahuluannya. “Mereka nggak mengerti kedalaman filosofi durian,” katanya, sambil meneguk lagi air kulit durian.
Suatu hari, ide ini hampir masuk ke proposal penelitian. Judulnya panjang sekali, hampir seperti skripsi mahasiswa yang tak mau selesai: “Durian Peel Water: A Potential Catalyst for Academic Brilliance in Petro Dollar Cities”. Sayangnya, birokrasi menunda segalanya.
Walau begitu, nama Pak Bram sudah kadung jadi legenda. Di mata mahasiswa, dia bukan hanya dosen yang hampir jadi profesor, tapi juga pelopor gaya hidup unik kampus, menggabungkan tradisi, humor, dan sedikit aroma menyengat khas durian.
Setiap musim durian tiba, cerita ini selalu diulang. Bahkan mahasiswa baru sudah hafal kisahnya sebelum bertemu Pak Bram langsung. Ada yang percaya manfaatnya, ada yang hanya ikut-ikutan demi konten media sosial.
Pak Bram sendiri tidak pernah secara resmi mengklaim teori ini benar. “Saya hanya ingin semua orang di kampus ini tertawa, sehat, dan… mungkin sedikit lebih rajin menulis jurnal,” ujarnya sambil tersenyum.
Di kota petro dolar, di mana gedung kampus megah berdiri di tengah kilang minyak, kisah Pak Bram dan kulit durian tetap abadi. Bukan karena jurnal internasional, bukan karena gelar profesor, tapi karena satu hal sederhana: kebahagiaan yang bisa muncul dari seteguk air dalam kulit durian.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti, peneliti luar negeri akan datang, memuji metode ini, lalu menjadikannya warisan budaya akademik yang mendunia. Kalau itu terjadi, satu-satunya yang bisa berkata “Saya sudah tahu dari dulu” hanyalah Pak Bram, dengan kulit durian di tangan, tentu saja.
Kini, setiap musim durian, kampus kembali ramai dengan eksperimen tak resmi ini. Dari pojok kantin, terdengar tawa dan cerita beraroma durian. Pak Bram mungkin belum jadi profesor, tapi di hati mahasiswa, ia sudah profesor dalam satu hal: memimpin tradisi ilmiah paling wangi di kota petro dolar.
Dan begitu musim durian selesai, semua kembali normal, hingga tahun depan, ketika bau khas itu kembali mengundang debat, tawa, dan tentu saja, gelas-gelas air kulit durian yang penuh harapan.[]
