-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kuliah Umum Unimal Jembatani Mahasiswa Menuju Industri Migas

Juli 28, 2026 Last Updated 2026-07-28T08:19:51Z

HRGS Section Head Harbour Energy Rizki Nugroho menyampaikan materinya di kegiatan kuliah umum yang berlangsung di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah Unimal, Lhokseumawe, Selasa (28/7/2026).

Lhokseumawe –
Migas Center dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malikussaleh (Unimal) bekerja sama dengan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menggelar kuliah umum bertema "Innovations in the Era of Sustainable Energy" yang dirangkai dengan sharing session bertajuk "Building Career Preparation and Industry Connections" di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, serta perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Aceh Utara dan Lhokseumawe ini menjadi wadah memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri migas dalam menghadapi tantangan transformasi energi global.

Acara dihadiri Rektor Universitas Malikussaleh Prof. Dr. Herman Fithra, ASEAN Eng, Deputi Dukungan Bisnis BPMA Edy Kurniawan, Analis Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Muhammad Arif Salsabil, Wakil Wali Kota Lhokseumawe Husaini S.E, Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan S.I.K M.SM  M.H, perwakilan Dandim Aceh Utara, Supervisor Sulfur Recovery Unit PHE NSO Dicky Rizky, HRGS Section Head Harbour Energy Rizki Nugroho, Kepala LPPM Unimal Prof. Dr. Ir. Mawardati M.Si, para dekan, dosen, dan mahasiswa.

Koordinator Migas Center Unimal, Dr. Muhammad Fazil, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang didukung SKK Migas dan BPMA sebagai bagian dari upaya membangun konektivitas antara kampus dan dunia industri.

Menurutnya, tema "From Campus to Industry" diangkat untuk menjawab perubahan yang sangat cepat dalam industri minyak dan gas, khususnya pada era transisi menuju energi berkelanjutan.

"Industri migas terus mengalami evolusi. Perubahan ini tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kampus harus mampu menyiapkan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan," katanya.

Fazil menjelaskan, selain menghadirkan kuliah umum dan diskusi bersama praktisi industri, Migas Center juga menampilkan mini expo karya mahasiswa sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dihasilkan sivitas akademika.

"Kami ingin memperlihatkan bahwa banyak karya mahasiswa yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Melalui kegiatan ini kami membuka ruang agar inovasi mahasiswa dapat dikenal oleh dunia industri," katanya.

Sementara itu, Deputi Dukungan Bisnis BPMA, Edy Kurniawan, mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Universitas Malikussaleh bersama SKK Migas dalam memperkuat ekosistem pengembangan sumber daya manusia sektor energi.

Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi dan industri merupakan fondasi penting untuk menghadapi tantangan transformasi energi yang saat ini sedang berlangsung di tingkat global.

"Kita sedang berada pada era transisi energi. Tuntutan pengurangan emisi karbon, efisiensi energi, dan pemanfaatan energi yang lebih bersih menjadi tantangan bersama. Namun minyak dan gas masih akan menjadi tulang punggung penyediaan energi nasional dalam beberapa dekade ke depan," jelasnya.

Edy mengatakan, sektor migas tidak lagi dapat dikelola dengan pendekatan konvensional. Berbagai inovasi, mulai dari digitalisasi, efisiensi operasi, hingga penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS), menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan industri.


Ia juga mengajak perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam menyiapkan inovasi dan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan industri energi masa depan.

Senada dengan itu, Analis Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas, Muhammad Arif Salsabil, menegaskan bahwa keberlanjutan industri migas tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, inovasi dalam industri migas harus dipahami secara luas, tidak hanya berkaitan dengan teknologi produksi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR), tetapi juga inovasi yang lahir dari pemikiran dan kreativitas generasi muda.

"Hari ini mahasiswa berdiskusi di kampus, beberapa tahun lagi mereka akan menjadi engineer, peneliti, maupun pemimpin di industri. Karena itu inovasi harus terus tumbuh dari sumber daya manusianya agar industri migas tetap berkelanjutan," katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan industri migas juga membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator migas, perguruan tinggi hingga masyarakat.

Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Dr. Herman Fithra, ASEAN Eng, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci menuju Indonesia maju.

Menurut Herman, penguatan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi prioritas dalam menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di dunia industri.

"Kita harus mempersiapkan generasi muda agar menguasai STEM karena dunia industri membutuhkan kompetensi tersebut. Kegiatan seperti ini menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dunia kerja," ujarnya.

Herman juga menjelaskan bahwa Migas Center Universitas Malikussaleh dibentuk bukan semata-mata untuk membahas aspek teknis perminyakan, melainkan berperan sebagai pusat edukasi dan komunikasi publik mengenai industri migas, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat.

Ia menyinggung pentingnya penyampaian informasi yang benar terkait pengembangan Blok Andaman agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membantu pemerintah menyampaikan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Kita harus percaya pada informasi resmi dari pemerintah. Kampus siap menjadi ruang dialog agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai pengembangan sektor migas di Aceh, termasuk potensi Blok Andaman," katanya.

Rektor juga berharap seluruh elemen masyarakat mendukung pengembangan industri migas di Aceh sehingga sumber daya alam yang dimiliki dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi talkshow yang menghadirkan Muhammad Arif Salsabil dari SKK Migas, Supervisor Sulfur Recovery Unit PHE NSO Dicky Rizky, serta HRGS Section Head Harbour Energy Rizki Nugroho. Para narasumber berbagi pengalaman mengenai perkembangan industri migas, inovasi teknologi, serta strategi mempersiapkan karier di sektor energi kepada para mahasiswa.[]

×
Berita Terbaru Update