Oleh Asrianda, Dosen Universitas Malikussaleh
Di sebuah negeri bersyariat, memakai celana pendek bisa jadi urusan serius. Bayangkan, pagi-pagi keluar beli sarapan, tiba-tiba “celana pendek” Anda menjadi topik sidang darurat tetangga. Hukuman? Bisa dibilang cukup membuat lutut bergetar, bukan karena dingin, tapi karena dipanggil aparat.
Namun, di dunia akademis, ada kisah yang sedikit berbeda. Seorang dosen, sosok terhormat di kelas, dikenal dengan gaya tutur yang serius dan penuh wibawa. Tapi begitu masuk lapangan badminton… wibawanya berubah jadi smash keras. Rahasianya? Celana pendek! Bukan sembarang celana pendek, tapi celana khusus bulu tangkis yang jika dilihat dari jauh, seperti mengirim pesan: “Ilmu boleh tinggi, tapi poin harus saya yang punya.”
Penonton pun sering dibuat bingung. Apakah ini pertandingan olahraga, atau kuliah umum tentang gaya hidup sehat? Dosen tersebut memadukan drop shot dan teori ekonomi, smash dan etika penelitian. Setiap kali ia melompat, mahasiswa yang kebetulan menonton merasa seperti sedang belajar anatomi, versi praktikum.
Dan begitulah, celana pendek menjadi simbol lintas dunia: di satu sisi, bisa jadi bahan perdebatan moral; di sisi lain, menjadi alat strategis untuk memenangkan set ketiga. Moral ceritanya? Hati-hati menilai celana pendek. Kadang itu bukan sekadar kain di paha, tapi bagian dari filosofi hidup: bebas bergerak, bebas berprestasi, asal bukan bebas dari aturan di tempat yang salah.
Tentu saja, gaya sang dosen ini memancing diskusi. “Pak, nggak takut dinilai kurang sopan?” tanya seorang mahasiswa. Sang dosen hanya tersenyum sambil memutar raket, lalu menjawab, “Celana panjang itu untuk rapat, celana pendek ini untuk tepat.” Filosofi yang singkat, padat, dan jelas mirip service awal yang akurat.
Di kantin kampus, gosip tentang “dosen celana pendek” semakin menyebar. Ada yang mengira itu trik psikologis untuk mengintimidasi lawan. Ada juga yang bilang itu cara beliau menghemat biaya laundry. Tapi yang jelas, setiap pertandingan, sang dosen selalu keluar lapangan dengan senyum puas—bukan hanya karena menang, tapi karena bisa memadukan kebugaran dan kebebasan mode.
Lucunya, beberapa dosen lain mulai ikut-ikutan. Ada yang mencoba short pants ala atlet nasional, tapi malah tersangkut di jaring net saat ambil bola. Ada pula yang celananya terlalu panjang untuk disebut pendek, terlalu pendek untuk disebut panjang, membuat penonton bingung apakah itu eksperimen atau fashion statement.
Di mata mahasiswa, fenomena ini memberi pelajaran penting: jangan menilai akademisi hanya dari daftar publikasinya. Lihat juga forehand dan backhand-nya. Karena ternyata, integritas ilmiah dan ketangkasan olahraga bisa bersatu, selama didukung sepasang celana pendek yang tepat.
Akhirnya, kampus pun diam-diam memasukkan “Etika Celana Pendek” ke dalam modul soft skill. Pesannya sederhana: berpakaianlah sesuai tempat, waktu, dan smash yang akan dilakukan. Karena di dunia ini, ada celana pendek yang membawa masalah… dan ada celana pendek yang membawa kemenangan.[]
