-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Riseh Teungoh: Luka Banjir Bandang dan Keteguhan Warga di Ujung Sawang

Januari 24, 2026 Last Updated 2026-01-24T14:20:36Z


Perjalanan menuju Gampong Riseh Teungoh, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Lhokseumawe, dengan jarak tempuh 47,8 kilometer. Jalan yang dilalui tidak seluruhnya mulus. Bekas banjir masih tampak di sejumlah titik, menyisakan lumpur, tanah tergerus, dan jejak kehancuran yang belum sepenuhnya pulih.

Gampong ini menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir bandang pada November 2025. Air bah datang tanpa ampun, menghanyutkan puluhan rumah warga dan merenggut simbol penting kehidupan masyarakat setempat seperti Masjid yang turut roboh diterjang arus deras. Sejak saat itu, banyak warga kehilangan tempat tinggal sekaligus pusat aktivitas sosial dan keagamaan mereka.

Selain banjir bandang, pengikisan tanah (erosi) parah memperburuk kondisi Riseh Teungoh. Aliran air yang deras menggerus permukiman di bantaran sungai, menyebabkan puluhan unit rumah dilaporkan hilang, lenyap bersama perabotan dan hasil kerja bertahun-tahun. Mayoritas warga yang bermata pencaharian sebagai petani menjadi kelompok paling terdampak, karena selain rumah, lahan dan kebun mereka ikut rusak.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan kemanusiaan datang pada Sabtu (24/01/2026). Sejumlah lembaga dan komunitas bergandeng tangan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak. Mereka terdiri dari Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Perumahan Taman Sentosa Cikarang Selatan, UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Universitas Malikussaleh (Unimal), serta Lhokseumawe Solidarity.

Perwakilan penyalur bantuan, Sari Wahyuni, menggambarkan kondisi Riseh Teungoh pascabanjir sebagai situasi yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan keterangan warga, sekitar 85 persen rumah di desa tersebut hilang atau mengalami kerusakan berat, sementara hanya 15 persen yang masih tersisa dan layak ditempati secara terbatas.

“Banyak rumah beserta harta benda warga hanyut dibawa arus banjir. Ini menjadi duka mendalam bagi masyarakat setempat,” ungkap Sari.

Bencana tersebut memaksa sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal. Untuk bertahan hidup, mereka memilih tinggal sementara di kebun milik sendiri yang jaraknya cukup jauh dari permukiman, atau menumpang di rumah saudara yang masih aman. Rumah-rumah yang tertanam lumpur dan bangunan yang hilang membuat proses pemulihan tidak bisa dilakukan secara bertahap, melainkan membutuhkan pemulihan total.

Dalam perjalanan menuju Desa Riseh Teungoh, rombongan penyalur bantuan juga menjumpai tenda-tenda BNPB yang tampak kosong di beberapa desa sekitar. Kondisi ini diduga terjadi karena warga lebih memilih bertahan di lahan milik sendiri atau lingkungan keluarga dibandingkan tinggal di tenda pengungsian yang jauh dari kebun dan aktivitas harian mereka.

Meski berada dalam situasi sulit, kearifan lokal warga Riseh Teungoh tetap terjaga. Sari mengungkapkan, warga menunjukkan rasa terima kasih dengan cara sederhana namun penuh makna. Setiap bantuan yang datang seolah harus dibalas, meski hanya dengan hasil kebun seadanya.

“Uniknya, warga di desa ini selalu memberi imbalan atas bantuan yang kami berikan dengan hasil kebun mereka. Alhamdulillah, kami pulang dibekali durian khas daerah Sawang,” tuturnya.

Di Riseh Teungoh, banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga ujian berat bagi ketahanan hidup masyarakat. Namun, di antara lumpur, rumah yang hilang, dan ladang yang rusak, warga tetap bertahan dengan gotong royong, rasa syukur, dan harapan akan pemulihan. Bagi mereka, bantuan yang datang bukan sekadar materi, melainkan penanda bahwa mereka tidak sendiri menghadapi bencana.[]

×
Berita Terbaru Update