JAKARTA – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan memaksa tiga kapal kargo untuk berbalik arah saat melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia.
Dalam pernyataan resmi, otoritas militer Iran menyebut tindakan tersebut diambil karena kapal-kapal itu mengabaikan peringatan yang telah diberikan sebelumnya.
“Pagi ini, menyusul klaim bohong presiden Amerika Serikat bahwa Selat Hormuz terbuka, tiga kapal kontainer dari berbagai negara dipaksa berbalik setelah peringatan dari angkatan laut Garda Revolusi,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Iran juga menegaskan bahwa pembatasan diberlakukan terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan pihak yang dianggap sebagai musuh, khususnya yang berafiliasi dengan sekutu Amerika Serikat dan Israel.
“Pergerakan kapal apa pun menuju atau dari pelabuhan yang berafiliasi dengan sekutu dan pendukung musuh Zionis-Amerika, ke tujuan mana pun dan melalui jalur apa pun, dilarang,” lanjut pernyataan itu.
Berdasarkan data firma intelijen energi Kpler, sedikitnya dua kapal kontainer milik perusahaan pelayaran asal Tiongkok, COSCO, sempat mencoba melintasi jalur tersebut. Namun, keduanya akhirnya kembali setelah situasi keamanan dinilai tidak memungkinkan.
Kedua kapal itu diketahui telah tertahan di kawasan Teluk sejak meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak global.[]
