Lhokseumawe — Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., secara resmi membuka Seminar Sejarah Kota Lhokseumawe bertema “Bandar Lhokseumawe dalam Perspektif Pemerintahan dan Sejarah”, yang digelar di Aula Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Selasa (15/10).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Husaini, S.E., unsur Forkopimda, para akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, serta narasumber dari berbagai lembaga pendidikan dan penelitian sejarah.
Dalam sambutannya, Wali Kota Sayuti Abubakar menyampaikan apresiasi kepada MAA dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Lhokseumawe memiliki perjalanan sejarah panjang sebagai bandar penting di pesisir utara Aceh, yang telah memainkan peran strategis sejak masa Kerajaan Samudera Pasai hingga kini menjadi kota otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001.
“Lhokseumawe bukanlah kota yang muncul tiba-tiba, melainkan memiliki perjalanan sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan pemerintahan, perdagangan, serta peradaban di kawasan utara Aceh,” ujar Wali Kota.
Lebih lanjut, Dr. Sayuti menekankan pentingnya penetapan hari jadi Kota Lhokseumawe berdasarkan kajian ilmiah dan dasar sejarah yang kuat. Menurutnya, momentum seminar ini menjadi langkah awal yang strategis untuk menggali berbagai sumber sejarah dan membuka ruang dialog akademik guna menemukan kesepakatan bersama.
“Pemerintah Kota akan menindaklanjuti hasil seminar ini agar Lhokseumawe memiliki hari jadi resmi yang dapat diperingati setiap tahun sebagai momentum memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat,” tambahnya.
Seminar tersebut menjadi ajang penting untuk menggali kembali nilai-nilai historis, memperkuat literasi sejarah lokal, serta melestarikan warisan budaya daerah. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak memahami kembali akar sejarah Lhokseumawe sebagai kota pelabuhan yang berperan besar dalam dinamika sosial, politik, dan ekonomi di wilayah utara Aceh.
Pemerintah Kota Lhokseumawe juga menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian sejarah dan budaya daerah, termasuk perlindungan terhadap situs bersejarah, artefak, manuskrip, serta warisan budaya takbenda yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Lhokseumawe.[]
