-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tim Unimal Edukasi Mitigasi Bencana di SMP Negeri 8 Lhokseumawe

Oktober 15, 2025 Last Updated 2025-10-15T01:13:10Z


Lhokseumawe –
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Malikussaleh melaksanakan kegiatan edukasi dan simulasi mitigasi bencana di SMP Negeri 8 Lhokseumawe, Senin (6/10/2025). Kegiatan yang diikuti 45 siswa dan enam guru ini mendapat dukungan dari mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SAR Unimal sebagai fasilitator lapangan.

Program ini merupakan bagian dari pendanaan PNBP Universitas Malikussaleh Tahun 2025 yang melibatkan dosen lintas fakultas dengan latar belakang keilmuan beragam. Tim pengabdian dipimpin oleh Deassy Siska, S.Si., M.Sc., dengan anggota Dr. Ir. Azhari, M.Sc., IPM., ASEAN Eng., Dr. Muhammad Haykal, S.E., M.Si., Ak., CA., Dr.-Ing. Sofyan, S.T., M.T., Dr. Khalsiah, S.Pd., M.Hum., dan Yenny Novianti, S.T., M.T.

Ketua tim, Deassy Siska, menjelaskan bahwa siswa sekolah menengah merupakan kelompok rentan yang perlu dibekali keterampilan kesiapsiagaan sejak dini.

“Kami ingin siswa mampu berpikir cepat dan bertindak tepat ketika bencana terjadi. Melalui kombinasi pembelajaran teori dan simulasi, mereka belajar dengan cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan pengenalan konsep dasar kebencanaan dan potensi risiko gempa bumi serta tsunami di wilayah Aceh. Selanjutnya, para siswa mengikuti simulasi penyelamatan diri dan evakuasi menuju titik aman di lingkungan sekolah.

Kepala SMP Negeri 8 Lhokseumawe, Yunitawati, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa edukasi kebencanaan sangat penting untuk menciptakan sekolah tangguh bencana.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim dari Universitas Malikussaleh yang telah memberikan pembekalan dan simulasi mitigasi. Kegiatan ini membuka wawasan baru bagi siswa dan guru kami tentang bagaimana harus bertindak saat bencana terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi geografis Lhokseumawe yang diapit oleh laut, sungai, dan perbukitan menjadikan kesadaran kebencanaan sebagai hal yang mutlak.

“Kesadaran dan kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari budaya sekolah. Kami berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan secara berkala,” tambahnya.

Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimal, Dr. Muhammad Haykal, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya keberlanjutan edukasi mitigasi di daerah rawan gempa dan tsunami.

“Daerah yang pernah dilanda bencana tidak berarti aman di masa depan. Justru harus semakin siap. Guru dan siswa perlu menjadi agen perubahan untuk menyebarkan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Khalsiah, S.Pd., M.Hum., menyebutkan bahwa pendekatan berbasis simulasi terbukti efektif meningkatkan kemampuan tanggap darurat siswa.

“Anak-anak terlihat lebih percaya diri dan memahami langkah yang benar saat bencana. Mereka tidak lagi panik, tetapi tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Sepanjang kegiatan, antusiasme siswa terlihat tinggi. Mereka dengan semangat mempraktikkan cara berlindung dari reruntuhan, mengenali tanda bahaya, dan mengikuti evakuasi menuju titik aman dengan tertib.[]

×
Berita Terbaru Update