Di sudut Kota Lhokseumawe, tepatnya di Dayah Babur Ridha Al-Aziziah, semangat baru tengah tumbuh. Bukan hanya semangat mengaji, belajar kitab, dan menghafal, tetapi juga semangat menggerakkan tubuh, melatih fisik, dan memperkuat mental. Semua ini terwujud lewat latihan Silat Perisai Diri, sebuah seni bela diri asli Indonesia yang sarat filosofi dan budi pekerti.
Program ini dimulai dengan gagasan sederhana: melatih para Teungku muda agar mampu mengembangkan Silat Perisai Diri di Lhokseumawe. Namun, visi di baliknya jauh lebih besar—membentuk generasi muda dayah yang sehat jasmani, tangguh mental, dan memiliki kemampuan melindungi diri sekaligus mengajarkan ilmunya kepada yang lain.
Bagi para Teungku dan santri, kegiatan ini adalah napas segar di tengah rutinitas. Pagi hari mereka disibukkan dengan kitab kuning, siang hari penuh diskusi, malam hari diisi doa dan kajian. Kini, ada tambahan kegiatan yang membuat badan terasa lebih bugar, pikiran lebih segar, dan semangat belajar semakin menyala.
Silat Perisai Diri di dayah ini tidak sekadar mengajarkan teknik tendangan atau pukulan. Setiap gerakan mengandung makna kesabaran, pengendalian diri, dan penghormatan kepada lawan. Filosofinya selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan di dayah: rendah hati dalam kemenangan, tegar dalam ujian, dan selalu menjunjung kebenaran.
Latihan dimulai dari pemanasan ringan, gerakan dasar, hingga jurus-jurus khas Perisai Diri. Para Teungku muda memimpin dengan teladan, menunjukkan bahwa mempelajari bela diri bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk menjaga diri dan melindungi yang lemah.
Yang menarik, suasana latihan selalu diselimuti canda tawa para santri yang lebih muda, bukan karena mereka menyepelekan tapi, karena mereka meresa tergugah dan senang serta sangat bahagia dalam memperagakan teknik Silat Perisai Diri. Kadang ada santri yang salah langkah, tertukar antara kaki kiri dan kanan, atau terlalu semangat sampai melompat lebih tinggi dari yang diajarkan. Namun, inilah yang membuat proses belajar menjadi hangat dan penuh rasa kekeluargaan.
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan melahirkan instruktur-instruktur handal dari kalangan dayah. Bayangkan, suatu hari nanti, hampir setiap dayah di Lhokseumawe punya pelatih Silat Perisai Diri dari alumninya sendiri. Tradisi ini akan menjadi warisan berharga yang menggabungkan ilmu agama dengan kekuatan fisik.
Kehadiran Perisai Diri juga menjadi pengingat bahwa bela diri adalah bagian dari kebudayaan bangsa yang harus dijaga. Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, para santri tidak hanya mahir mengakses kitab digital, tetapi juga piawai dalam gerak dan jurus yang sudah diwariskan turun-temurun sejak pendirinya, R.M. Soebandiman Dirdjoatmodjo.
Menariknya, latihan ini bukan hanya soal fisik. Ia juga menjadi ajang silaturahmi lintas generasi di lingkungan dayah. Teungku yang sudah senior berbagi kisah perjuangan masa lalu, sementara santri muda mendengarkan sambil mempraktekkan jurus yang baru mereka pelajari. Nilai kebersamaan terasa kental, menghapus sekat antara guru dan murid.
Kini, setiap sore di halaman Dayah Babur Ridha Al-Aziziah, terdengar teriakan semangat, dentuman langkah, dan aba-aba pelatih yang mengiringi matahari terbenam. Suara itu bukan sekadar tanda latihan fisik, tetapi simbol kebangkitan sebuah tradisi. Perisai Diri tidak hanya hidup di gelanggang, tetapi juga di hati para santri.
Dan siapa tahu, dari halaman sederhana di Lhokseumawe ini, akan lahir pendekar-pendekar muda yang kelak mengharumkan nama daerah, membawa pesan damai lewat bela diri, dan mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari gabungan ilmu, iman, dan keberanian.[]
Oleh Asrianda, Dosen Universitas Malikussaleh
