
Ilustrasi Tank Israel (Foto: REUTERS/Raneen Sawafta)
Gaza – Militer Israel untuk pertama kalinya mengerahkan tank ke distrik selatan dan timur kota Deir al-Balah, Gaza, dalam eskalasi terbaru konflik yang telah berlangsung lebih dari 21 bulan. Serangan yang terjadi pada Selasa (22/7/2025) tersebut menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai beberapa lainnya.
Menurut laporan Reuters, tank-tank Israel menembaki area permukiman, termasuk rumah warga dan sebuah masjid. Serangan ini terjadi setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi dan menyatakan bahwa operasi bertujuan menghancurkan infrastruktur serta kemampuan kelompok militan Hamas.
Deir al-Balah diketahui menjadi tempat penampungan bagi ribuan warga Palestina yang mengungsi dari wilayah lain selama perang berkepanjangan ini. Menurut sumber militer Israel, kawasan tersebut diyakini menjadi lokasi para sandera, di mana sejumlah dari mereka masih diyakini hidup.
“Staf PBB masih berada di Deir al-Balah, dan dua wisma PBB telah diserang, meskipun koordinat lokasi markas sudah diberitahukan kepada pihak-pihak terkait,” ujar Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric. “Semua lokasi sipil, termasuk fasilitas PBB, harus dilindungi, terlepas dari adanya perintah evakuasi.”
Serangan tersebut juga berdampak pada fasilitas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah itu. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa tempat tinggal staf serta gudang utama WHO terkena serangan. Dua staf WHO dan dua anggota keluarga mereka dilaporkan ditahan oleh militer Israel, di mana tiga di antaranya kemudian dibebaskan, sementara satu staf masih ditahan. Hingga kini, Misi Israel untuk PBB belum memberikan komentar resmi.
Eskalasi juga terjadi di wilayah selatan Khan Younis, di mana serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk sepasang suami istri dan dua anak mereka yang saat itu berada di dalam tenda, menurut keterangan petugas medis.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sedikitnya 130 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir – angka kematian tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Israel terkait operasi militer di Deir al-Balah maupun Khan Younis.
Sumber-sumber militer Israel menyebut bahwa Deir al-Balah sebelumnya dihindari karena adanya dugaan bahwa Hamas menahan sandera di wilayah tersebut. Dari sekitar 50 sandera yang tersisa di Gaza, setidaknya 20 orang diyakini masih hidup.
Keluarga para sandera menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap keselamatan kerabat yang ditahan dan menuntut kejelasan dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan pimpinan militer mengenai strategi penyelamatan mereka.
“Rakyat Israel tidak akan memaafkan siapa pun yang dengan sengaja membahayakan para sandera – baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Tidak seorang pun bisa mengklaim bahwa mereka tidak tahu apa yang dipertaruhkan,” bunyi pernyataan resmi Forum Keluarga Sandera.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza kembali mengingatkan bahaya kelaparan yang kini mengancam ribuan warga. Sedikitnya 19 orang telah meninggal akibat kelaparan sejak Sabtu lalu, dan pejabat kesehatan memperingatkan kemungkinan “kematian massal” dalam beberapa hari mendatang jika bantuan kemanusiaan tidak segera tiba.[]