LHOKSUKON – Sebanyak 120 siswa SD Negeri 25 Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, diajak mengenal dan menerapkan nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) sejak usia dini. Mereka didorong untuk berani peduli, menghargai perbedaan, serta melindungi sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Penguatan Kapasitas HAM untuk Generasi Emas Indonesia yang dilaksanakan Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Provinsi Aceh melalui Penggerak HAM Aceh Utara di SD Negeri 25 Lhoksukon, Selasa (15/9/2026).
Mengusung tema “Membangun Generasi Emas yang Berani Peduli, Berani Menghargai dan Berani Melindungi”, kegiatan tersebut diikuti siswa kelas III hingga VI bersama seluruh dewan guru.
Penggerak HAM Aceh Utara, Marzuki AR, yang menjadi pemateri, mengajak para siswa memahami HAM melalui hal-hal sederhana yang mereka jumpai di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Para siswa diajak untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, membantu teman yang membutuhkan, serta menjaga hak orang lain. Mereka juga didorong untuk berani menyampaikan atau melaporkan apabila melihat tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut adalah menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, inklusif, dan bebas dari perundungan atau bullying.
Melalui gerakan #StopBullying, siswa tidak hanya diajak untuk menghindari perilaku perundungan, tetapi juga tidak menjadi penonton yang membiarkan tindakan tersebut terjadi. Mereka didorong untuk berani peduli dan memberikan perlindungan kepada teman yang menjadi korban.
Kepala SD Negeri 25 Lhoksukon, Nurlela, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan nilai-nilai HAM sejak dini penting untuk membentuk karakter anak sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena pendidikan HAM memang sangat penting dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak perlu memahami bagaimana menghargai teman, menghormati guru, menghargai perbedaan dan yang paling penting tidak melakukan bullying,” ujar Nurlela.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak positif bagi seluruh siswa dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Nurlela juga berharap pembinaan tersebut dapat memperkuat budaya sekolah yang ramah anak, aman, saling menghargai, serta terbebas dari praktik perundungan.
Sementara itu, Marzuki AR menegaskan bahwa konsep generasi emas Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan akademik. Menurutnya, generasi masa depan juga harus memiliki karakter kuat dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Generasi emas adalah generasi yang berani melakukan hal-hal baik. Berani peduli ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan, berani menghargai setiap perbedaan, dan berani melindungi orang lain dari tindakan yang merugikan atau menyakiti,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sekolah memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut karena menjadi salah satu ruang utama bagi anak untuk belajar berinteraksi, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan yang sehat dengan sesama.[]

