-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pulihkan Ekonomi Pascabencana, 100 Pelaku Kuliner Aceh Tamiang Ikuti Program MASAMO

September 12, 2026 Last Updated 2026-09-12T07:57:02Z

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

ACEH TAMIANG –
Pemulihan Aceh Tamiang pascabencana tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kembali infrastruktur. Pemerintah juga mulai menghidupkan sektor ekonomi kreatif dengan mendorong pelaku usaha kuliner kembali berproduksi dan mengembangkan usaha.

Upaya tersebut dilakukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) melalui program Masak Bersama Master (MASAMO) yang digelar di WD Coffee, Aceh Tamiang, 10–12 September 2026.

Sebanyak 100 pelaku usaha kuliner yang terdampak bencana mengikuti pelatihan tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan keterampilan mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan usaha, manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga perlindungan kekayaan intelektual.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan program MASAMO merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.

“Kehadiran kami ini atas arahan Presiden dalam mendukung program Bupati untuk membangkitkan ekonomi daerah. Ini adalah peluang yang sangat baik ke depan,” kata Teuku Riefky saat menghadiri kegiatan tersebut, Jumat (11/9/2026).

Ia berharap pelatihan tersebut melahirkan inovasi produk kuliner baru sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Terima kasih juga kepada Chef, semoga lahir ide-ide yang semakin menarik serta mampu membuka lapangan kerja yang luas,” ujarnya.

Program MASAMO merupakan bagian dari gerakan Ekraf Peduli bertajuk “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya” yang dirancang untuk menghidupkan kembali ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di daerah terdampak bencana.

Program tersebut juga menjadi tindak lanjut Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut Teuku Riefky, pemulihan pascabencana tidak semata-mata berorientasi pada rehabilitasi dan rekonstruksi fisik, tetapi juga harus menyentuh sektor ekonomi masyarakat.

“Program ini berjalan secara berkelanjutan. Saat ini terdapat 103 program beragam yang dibagikan untuk kabupaten/kota terdampak, baik di dalam maupun di luar Aceh, dan bahkan sedang disiapkan untuk wilayah NTT,” katanya.

Belajar Produksi hingga Strategi Bisnis

Selama pelatihan, para pelaku usaha mendapatkan kesempatan mengikuti demonstrasi memasak bersama Chef Hasan Basri, Ketua Indonesia Chef Association Badan Pengurus Daerah Sumatera Utara.

Selain keterampilan memasak, peserta juga memperoleh materi bisnis yang disampaikan Angga Nugraha, Business & Operation Growth Strategist sekaligus Chief Operations Officer King Fried Chicken.

Materi pelatihan meliputi perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), pengembangan produk, strategi pemasaran, manajemen keuangan, strategi bundling, hingga perlindungan dan legalitas Kekayaan Intelektual (KI).

Peserta juga dilatih mengembangkan produk siap saji atau Ready-To-Eat berbahan baku lokal dengan masa simpan lebih panjang tanpa memerlukan pendingin.

Tidak berhenti pada pelatihan, peralatan memasak yang digunakan selama kegiatan juga diberikan kepada peserta. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi modal pendukung agar keterampilan yang diperoleh bisa langsung diterapkan dalam pengembangan usaha masing-masing.

Salah seorang peserta, Nurwachna, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Pemilik Catering Bundawana itu mengatakan pelatihan membuka peluang baginya untuk menambah variasi menu.

“Alhamdulillah, lewat kegiatan ekraf ini dan resep dari chef, saya dapat ilmu menu baru untuk bisnis saya, seperti Sapi Lada Hitam dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun usaha kateringnya selama ini lebih banyak menyajikan menu bercita rasa Nusantara, variasi baru tetap diperlukan untuk menarik pelanggan.

“Semoga menu ini jadi favorit baru dan makin menambah langganan,” katanya.

Pemulihan Ekonomi Capai 80 Persen

Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menyambut positif program yang menyasar langsung pelaku usaha tersebut. Ia mengatakan pemulihan pascabencana di daerahnya telah menunjukkan perkembangan signifikan.

“Alhamdulillah, sekitar 10 bulan pascabencana, pemulihan sudah mencapai 80 persen. Kami sangat berterima kasih atas inisiatif Pak Menteri yang luar biasa ini,” kata Armia.

Menurutnya, program seperti MASAMO memberikan dampak nyata bagi masyarakat karena tidak hanya membantu pemulihan ekonomi, tetapi juga menunjukkan kepedulian pemerintah pusat terhadap masyarakat Aceh Tamiang.

“Kami sangat berharap program ini dapat terus berlanjut,” ujarnya.

Sektor kuliner sendiri memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif karena berkaitan langsung dengan bahan baku lokal, budaya, UMKM, serta penciptaan lapangan kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ekonomi kreatif menyumbang nilai tambah sekitar Rp1.611,2 triliun pada 2024 atau sekitar 7,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Subsektor kuliner menjadi salah satu kekuatan utama di dalamnya.

Karena itu, pengembangan usaha kuliner di daerah terdampak bencana dinilai tidak hanya membantu pelaku usaha kembali bangkit, tetapi juga membuka ruang bagi potensi bahan pangan lokal untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tamiang Suibun Anwar, Ketua DPRK Aceh Tamiang Fadlon, serta Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Aceh Tamiang Muhammad Farij.

Teuku Riefky Harsya hadir bersama Deputi Bidang Kreativitas Digital Neil El Himam, Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Rian Firmansyah, Direktur Kuliner Romi Astuti, serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Media dan Opini Publik Hasbil Mustaqim Lubis.

Program MASAMO di Aceh Tamiang menjadi salah satu contoh bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali jalan, jembatan, dan fasilitas umum. Menghidupkan kembali usaha masyarakat juga menjadi bagian penting agar roda ekonomi daerah dapat kembali bergerak dan masyarakat mampu bangkit dengan kekuatan sendiri.[]

×
Berita Terbaru Update