-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ratusan Anak Berkebutuhan Khusus Unjuk Bakat pada Hari Anak Nasional bersama Pertamina EP Rantau Field

Juli 30, 2026 Last Updated 2026-07-30T05:58:53Z

120 anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang memperingati Hari Anak Nasional. Dalam kesempatan itu, mereka aktif mengikuti serangkaian acara dan memperlihatkan bakat seni dihadapan tamu undangan.

ACEH TAMIANG –
Tawa dan semangat memenuhi halaman Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang saat 120 anak berkebutuhan khusus memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 bersama PT Pertamina EP Rantau Field, Kamis (30/7). Melalui berbagai kegiatan edukatif dan hiburan, perusahaan migas tersebut menegaskan komitmennya mendukung pemenuhan hak anak serta mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif.

Ratusan siswa bersama orang tua dan guru mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi senam ceria, lomba mewarnai, penampilan seni, hingga peragaan busana. Suasana hangat semakin terasa ketika para siswa berjajar menyambut kedatangan Field Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, dan Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Aceh, Marlina Muzakir.

Momen penyambutan berlangsung istimewa ketika Tomi membuka interaksi menggunakan bahasa isyarat yang sengaja dipelajarinya sebelum menghadiri acara. Gestur sederhana itu langsung disambut senyum dan tepuk tangan para siswa.

Dalam sambutannya, Tomi menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa terkecuali.

"Setiap anak adalah lentera bagi kehidupan dan bangsa ini. Setiap anak berharga untuk meraih masa depannya. Tugas kita bersama memastikan setiap anak memperoleh lingkungan yang inklusif, kasih sayang, perlindungan, pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan mengembangkan potensi terbaiknya," ujarnya.

Menurut Tomi, Pertamina EP Rantau Field secara konsisten menjalankan Program Pengembangan Masyarakat (PPM), salah satunya melalui program perlindungan dan pemenuhan hak anak. Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan menjalin kolaborasi dengan SLBN Pembina Aceh Tamiang guna menghadirkan kesempatan belajar yang setara bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Berbagai program yang dijalankan antara lain menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak, memperkuat kapasitas tenaga pendidik melalui Program Kelas Berdaya, serta membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan potensi yang dimiliki.

"Program-program ini merupakan wujud keberpihakan terhadap anak berkebutuhan khusus agar mereka tetap memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mengembangkan kemampuan terbaiknya," katanya.

Mengusung tema "Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depannya", peringatan Hari Anak Nasional diikuti sekitar 120 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA serta 70 tenaga pendidik. Berbagai penampilan seni dan pertunjukan busana yang dibawakan para siswa mendapat apresiasi meriah dari para tamu undangan.

Salah satu penampilan yang paling menyentuh datang dari Sayed Rahmad Tuikram, siswa tunanetra yang membawakan beberapa lagu di penghujung acara. Lagu Ayah yang dinyanyikannya membuat suasana seketika hening. Tidak sedikit tamu undangan tampak menyeka air mata.

Sayed telah kehilangan ayahnya sejak berusia enam tahun akibat penyakit kelenjar getah bening. Sejak itu, ia tumbuh dengan ketegaran dan menjadikan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebagai cara melepas kerinduan kepada sosok ayah.

Lingkungan belajar yang inklusif di SLBN Pembina Aceh Tamiang turut mengantarkan Sayed menorehkan prestasi sebagai Juara I Vokal Solo Putra pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Provinsi Aceh. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berprestasi ketika memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai.

Sementara itu, Ketua TP PKK dan TP Posyandu Provinsi Aceh, Marlina Muzakir, mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ia menceritakan pengalaman pribadinya membesarkan seorang anak berkebutuhan khusus yang telah berpulang pada usia 23 tahun.

"Tidak berbeda dengan ibu-ibu semua, Allah pernah menitipkan kepada saya seorang anak berkebutuhan khusus. Saya memahami perjuangan para orang tua karena saya juga menjadi guru bagi anak saya sendiri di rumah," ungkap Marlina.

Ia mengingat kembali kondisi Aceh pada masa konflik ketika sekolah luar biasa masih sangat terbatas. Kini, menurutnya, keberadaan SLBN di berbagai kabupaten menjadi harapan baru bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Marlina mengaku sengaja memilih memperingati Hari Anak Nasional di Aceh Tamiang, meski seharusnya menghadiri kegiatan serupa di Banda Aceh.

"Saya bahagia bisa kembali ke sekolah ini sesuai janji saya. Melihat anak-anak tampil penuh percaya diri dan menunjukkan kreativitasnya menjadi kebahagiaan tersendiri," katanya.[]

×
Berita Terbaru Update