-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mualem Pastikan Hilirisasi Migas Andaman Dimulai dari KEK Arun

Juli 03, 2026 Last Updated 2026-07-03T03:29:15Z


BANDA ACEH –
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), memastikan proses hilirisasi minyak dan gas (migas) dari kawasan Andaman akan berjalan dan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Aceh. Pemerintah Aceh kini mulai mempersiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari pengembangan kawasan industri hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), agar manfaat proyek migas tersebut dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

"Gas alam melimpah, kita harus persiapkan diri dengan matang. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan," kata Mualem di Jakarta, Rabu (1/7).

Menurut Mualem, potensi migas di Blok Andaman tidak boleh hanya dipandang sebagai sumber penerimaan daerah semata. Lebih dari itu, keberadaan cadangan gas alam yang besar harus menjadi momentum untuk mendorong transformasi ekonomi Aceh melalui pembangunan industri hilir yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat daya saing daerah.

"Kalau hanya bicara finansial, pembahasannya sebatas pembagian hak bagi Aceh dalam bentuk nominal rupiah. Yang kita inginkan adalah Blok Andaman menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Aceh, mengembangkan sumber daya manusia, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, perlu perencanaan yang matang. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi. Ia menjelaskan, Pemerintah Aceh telah beberapa kali menggelar rapat koordinasi terkait rencana hilirisasi migas Andaman yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun.

Menurut Nurlis, kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman. Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Lapangan Gas Tengkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy.

"Proyek inilah yang akan menjadi titik awal pergerakan hilirisasi migas di Aceh," katanya.

Pemerintah Aceh merencanakan hilirisasi tersebut dimulai dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe agar sejalan dengan arah pembangunan nasional. Pengembangan KEK Arun Lhokseumawe telah masuk dalam daftar 77 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan juga menjadi bagian dari prioritas pembangunan Aceh.

Nurlis menjelaskan, langkah tersebut didukung potensi produksi Lapangan Gas Tengkulo yang diperkirakan mencapai 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Hingga saat ini, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) dengan PT PLN, sehingga masih tersedia ruang yang besar untuk mendukung pengembangan berbagai industri hilir.

"Masih sangat banyak peluang untuk pertumbuhan industri berbasis gas di Aceh," ujarnya.

Gas alam tersebut, lanjut Nurlis, dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti metanol dan hidrogen. Menurutnya, Aceh perlu segera mempersiapkan pembangunan pabrik metanol karena komoditas tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam program biodiesel nasional yang memanfaatkan minyak kelapa sawit.

Selain gas alam, Lapangan South Andaman juga diproyeksikan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari. Bahan baku tersebut dapat diolah menjadi nafta, kerosin, dan gasoline yang dibutuhkan industri petrokimia, industri cat, hingga sektor energi.

"Produksi kondensat ini akan mendorong berdirinya kilang pengolahan (refinery). Dampak ekonomi yang sesungguhnya akan muncul ketika berbagai industri hilir tersebut berkembang di Aceh," katanya.

Di sisi lain, Pemerintah Aceh menyadari bahwa pengembangan industri hilir membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi tinggi. Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus utama yang dipersiapkan sejak dini.

"Aceh membutuhkan SDM dalam jumlah besar. Kami berharap Mubadala Energy juga dapat berperan dalam menyiapkan dan mendidik tenaga kerja lokal agar mampu mengisi kebutuhan industri yang akan berkembang nantinya," ujar Nurlis.

Ia menegaskan, Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf akan terus membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat, investor, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar hilirisasi migas Blok Andaman benar-benar menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

×
Berita Terbaru Update