-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AS Masuki Tahap Krusial Pengembangan Sistem Pertahanan Rudal Golden Dome

Februari 08, 2026 Last Updated 2026-02-08T04:27:11Z

Menteri Perang A.S. Pete Hegseth membahas inisiatif pertahanan rudal Golden Dome di Gedung Putih pada Mei 2025. THE ASSOCIATED PRESS

Washington —
Inisiatif pertahanan rudal Golden Dome milik Amerika Serikat memasuki tahap penting setelah Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat (Missile Defense Agency/MDA) resmi membuka permintaan proposal untuk sistem pertahanan berlapis berskala besar yang disebut Scalable Homeland Innovative Enterprise Layered Defense (SHIELD).

Mengutip laporan Reuters, proyek SHIELD dirancang sebagai program jangka panjang selama 10 tahun dengan nilai mencapai 151 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.473 triliun. Sistem ini akan mengintegrasikan jaringan rudal pencegat, satelit, dan sensor canggih untuk melindungi wilayah Amerika Serikat serta Sekutu dan Mitranya dari berbagai ancaman rudal.

Melalui skema SHIELD, militer AS dapat memberikan perintah tugas secara cepat kepada kontraktor terpilih tanpa harus menggelar tender terpisah untuk setiap kebutuhan, sehingga mempercepat pengembangan dan implementasi teknologi pertahanan.

Golden Dome terinspirasi dari sistem Iron Dome milik Israel, namun dirancang dalam skala yang jauh lebih besar dan kompleks. Sistem ini akan menggabungkan aset berbasis darat, udara, dan ruang angkasa untuk menghadapi ancaman rudal balistik, hipersonik, dan rudal jelajah.

Departemen Pertahanan AS juga merencanakan pembangunan konstelasi satelit yang mengorbit Bumi untuk deteksi dini dan pelacakan rudal secara waktu nyata. Kemampuan ini menjadi pembeda utama dibandingkan sistem pertahanan rudal AS yang telah ada sebelumnya.
Satelit Hypersonic Ballistic Tracking Space Sensor, yang terlihat dalam ilustrasi, melacak senjata yang bermanuver secara tidak terduga di atmosfer. L3HARRIS

“Setelah sepenuhnya dibangun, Golden Dome akan mampu mencegat rudal bahkan jika diluncurkan dari sisi lain dunia,” ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Mei 2025.

Sementara itu, Jenderal Angkatan Ruang Angkasa AS Michael Guetlein, yang memimpin pengembangan Golden Dome, disebut telah merampungkan cetak biru sistem tersebut. Hal itu dilaporkan Bloomberg pada September 2025.

Menurut Guetlein, tantangan utama terletak pada pembangunan rudal pencegat berbasis ruang angkasa.
“Saya pikir tantangan teknis sebenarnya adalah membangun rudal pencegat berbasis ruang angkasa. Namun teknologinya sudah ada, dan setiap elemen fisikanya telah terbukti,” ujarnya dalam konferensi industri ruang angkasa pada Juli 2025, seperti dikutip CNN.

Uji coba besar pertama Golden Dome ditargetkan berlangsung pada akhir 2028. Sejumlah kemajuan teknis telah menunjukkan hasil positif. Pada Juni 2025, MDA berhasil menguji Long-Range Discrimination Radar (LRDR) di Clear Space Force Station, Alaska, yang sukses melacak target rudal balistik antarbenua (ICBM).

Radar LRDR merupakan bagian dari sistem Ground-Based Midcourse Defense yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas rudal pencegat di Alaska dan California, khususnya dalam menghadapi potensi ancaman dari Iran dan Korea Utara.

Selain itu, Amerika Serikat juga berhasil mendemonstrasikan penggunaan satelit untuk melacak rudal hipersonik. MDA mengonfirmasi bahwa Hypersonic Ballistic Tracking Space Sensor memenuhi target kinerja dalam pengujian, sebagaimana dilaporkan SpaceNews pada April 2025.

Perkembangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa arsitektur pertahanan berbasis ruang angkasa yang menjadi inti sistem Golden Dome dapat direalisasikan, sekaligus menandai langkah signifikan Amerika Serikat dalam membangun sistem pertahanan rudal paling canggih di dunia.[]

×
Berita Terbaru Update