
Mauro Zijlstra jadi calon pemain naturalisasi baru (Instagram/@maurozijlstra).
Jakarta — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menandatangani berkas naturalisasi empat calon pemain untuk Tim Nasional Indonesia. Proses tersebut kini menunggu pembahasan di DPR RI yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang, usai masa reses berakhir.
Informasi tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (31/7). Dari empat nama yang diajukan, satu merupakan calon pemain untuk Timnas U-23 putra, yakni Mauro Zijlstra, sementara tiga lainnya diproyeksikan untuk memperkuat Timnas Putri Indonesia.
"Bapak Presiden sudah menandatangani surat naturalisasi Mauro dan tiga pemain putri. Ini sudah masuk ke DPR, tapi karena masih reses, prosesnya akan dilanjutkan bulan Agustus," kata Erick Thohir.
Erick menegaskan bahwa komunikasi dengan DPR sudah dilakukan dan menyatakan keyakinannya bahwa proses akan mendapat dukungan penuh dari parlemen. Ia menilai, naturalisasi Mauro Zijlstra menjadi bagian penting dari regenerasi skuad Garuda Muda.
"Insya Allah DPR mendukung. Kita tahu striker kita saat ini cuma satu. Maka, Mauro bagian dari regenerasi Timnas," tambahnya.
Jika proses administrasi berjalan lancar, Mauro Zijlstra diproyeksikan tampil dalam Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 atau laga uji coba yang akan digelar di Surabaya pada September 2025.
Selain keempat nama tersebut, Erick juga mengisyaratkan bahwa akan ada tambahan satu hingga dua pemain keturunan yang disiapkan untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, ia belum dapat mengungkap identitas pemain tersebut karena dokumen naturalisasi masih dalam proses.
"Sekarang sedang diproses tambahan satu dua pemain untuk Oktober. Kalau suratnya sudah masuk dan semuanya jelas, baru bisa diumumkan," ungkap Menteri BUMN itu.
Erick juga menegaskan bahwa seluruh proses naturalisasi dilakukan secara hati-hati dan sesuai regulasi FIFA, demi menghindari potensi sanksi atau sorotan negatif.
"Orang tuanya dan si pemain benar-benar harus rela membela Merah Putih. Kalau belum ada bukti tertulis (black and white), jangan sampai salah langkah. FIFA sangat ketat soal ini."
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa naturalisasi bukan satu-satunya strategi PSSI dalam membangun prestasi. Ia menyebut naturalisasi sebagai quick win, tetapi pembinaan jangka panjang tetap menjadi fokus utama federasi.
"Kita tidak ingin dicap sebagai negara yang sekadar mengejar prestasi instan. Prestasi tim nasional memang penting, tetapi sistem pembinaan juga harus berjalan agar berkelanjutan," tutup Erick.[]