
Sejumlah alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, pada Jumat (24/5/2024). Foto: Detik.com
Banda Aceh – Provinsi Aceh mencatat defisit neraca perdagangan luar negeri sebesar USD19,22 juta pada Februari 2025. Defisit ini disebabkan oleh nilai impor yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor dalam periode tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, total nilai impor Aceh mencapai USD73,16 juta, sedangkan ekspor hanya mencatat angka USD53,94 juta.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Aceh masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Ahmadriswan Nasution, melalui Fungsional Madya BPS, Oriza Santifa, menjelaskan bahwa meskipun impor lebih tinggi dari ekspor, angka impor justru mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada Februari 2025 sebesar USD73,16 juta. Angka ini turun 3,51 persen dibandingkan dengan Januari 2025,” ujar Oriza dalam keterangannya, Kamis (10/4/2025).
Amerika Serikat tercatat sebagai negara asal impor terbesar untuk Aceh dengan nilai USD30,34 juta, yang didominasi oleh komoditas gas. Selain itu, Aceh juga mengimpor bahan kimia anorganik senilai USD8,90 juta serta pupuk sebesar USD5,29 juta.
Sementara itu, di sisi ekspor, Aceh justru mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor pada Februari 2025 naik sebesar 6,08 persen dibandingkan Januari 2025.
Komoditas batu bara menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor mencapai USD32,36 juta, yang seluruhnya dikirim ke India. Komoditas ini menyumbang 62,71 persen dari total ekspor Aceh sebesar USD53,94 juta.
“Selain batu bara, Aceh juga mengekspor kopi, berbagai produk kimia, dan komoditas lainnya,” tambah Oriza.
Meskipun ekspor menunjukkan tren peningkatan, ketimpangan nilai perdagangan menegaskan pentingnya diversifikasi produk ekspor dan penguatan sektor industri lokal agar Aceh tidak terus bergantung pada impor..[]