ALAM Papua Selatan memiliki daya tarik eksotis yang berbeda dibandingkan dengan Papua Barat, pesisir utara, dan pedalaman Papua. Salah satu wilayah yang mencerminkan keunikan tersebut adalah Merauke, sebuah kota yang mengalami banyak perubahan sejak pertama kali ditemukan oleh kolonial Belanda pada 12 Februari 1902.
Pemerintah Belanda dahulu mendesain Merauke sebagai jalur masuk ke belantara bagian utara Papua dan lokasi isolasi bagi para pejuang Republik, yakni ke Boven Digoel. Sebelum adanya pemekaran wilayah, Boven Digoel masih merupakan bagian dari administrasi Merauke.
1. Keindahan Alam dan Destinasi Wisata
Karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat mengeksplorasi seluruh tempat di Merauke. Namun, beberapa lokasi yang sempat dikunjungi antara lain Monumen Kapsul Waktu, Taman Satwa, dan Monumen Perbatasan Sabang-Merauke. Salah satu kawasan yang menarik perhatian adalah Taman Nasional Wasur, yang dilewati dalam perjalanan menuju Monumen Perbatasan Sota.
Taman Nasional Wasur merupakan salah satu kawasan konservasi terlengkap di Papua Selatan. Kawasan ini sering disebut sebagai "Serengeti Papua" karena memiliki lanskap yang unik, seperti padang sabana, hutan rawa-rawa, hutan monsun, hutan sagu, padang rumput, dan hutan pantai. Di dalamnya terdapat berbagai satwa liar, seperti kanguru, kasuari gelambir, kesturi, cenderawasih raja, cenderawasih kuning, serta buaya air tawar dan air asin.
Keberadaan komunitas kanibal di dalam Taman Nasional Wasur sempat disinggung oleh beberapa petugas kepolisian di Sota. Namun, kami tidak dapat memastikan kebenarannya karena perjalanan kami tidak memungkinkan untuk berhenti di tengah hutan. Berdasarkan literatur dan dokumentasi film, beberapa suku di pedalaman Papua, seperti suku Korowai, masih dikenal dengan praktik kanibalisme, terutama dalam konteks ritual dan kepercayaan tradisional.
2. Keunikan Satwa Papua
Banyak orang tidak mengetahui bahwa kanguru, yang identik dengan Australia, juga dapat ditemukan di Papua, terutama di Merauke. Berbeda dengan kanguru Australia, kanguru Papua memiliki ukuran lebih kecil dan kehidupan yang beradaptasi dengan kondisi alam setempat. Berdasarkan penelitian Universitas Cenderawasih, terdapat 14 jenis kanguru di Papua, yang dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni kanguru tanah dan kanguru pohon.
Kanguru pohon (Dendrolagus) merupakan adaptasi dari kanguru daratan yang berkembang di kanopi hutan. Karena wilayah kanopi di Papua relatif kosong dari primata, kanguru pohon beradaptasi untuk bertahan hidup dengan memakan pucuk-pucuk pohon. Sementara itu, kanguru tanah di Merauke hidup di sabana dan hutan terbuka, sehingga tidak memiliki kemampuan memanjat seperti spesies yang berada di pedalaman tengah Papua.
Dari segi ukuran, kanguru Papua terbesar adalah Macropus agilis dengan berat mencapai 25 kg. Ada juga genus Dorcopsis yang hidup di pepohonan dengan berat 5-7 kg, serta genus Dorcopsulus yang lebih kecil dengan berat sekitar 2-3 kg. Jika dibandingkan, kanguru di Merauke tidak seagresif kanguru Australia yang beratnya bisa mencapai 80 kg.
3. Ancaman dan Keamanan di Taman Nasional
Lahan basah di Taman Nasional Wasur merupakan ekosistem produktif yang menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, serta burung migran, walabi, dan kasuari yang sering mengunjungi Danau Rawa Biru. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1990 dan memiliki luas sekitar 4.138 km².
Namun, ada beberapa alasan mengapa kami tidak diizinkan untuk mengeksplorasi lebih jauh ke dalam taman nasional. Selain ancaman dari binatang buas, salah satu kekhawatiran utama adalah nyamuk malaria. Di Merauke, terutama di wilayah pedalaman, malaria masih menjadi masalah kesehatan yang serius dan mengancam jiwa. Selain itu, waktu perjalanan kami yang sudah mendekati senja juga menjadi faktor pertimbangan untuk tidak berlama-lama di alam liar.
4. Keindahan Pantai dan Keberagaman Budaya
Salah satu destinasi yang memberikan kesan mendalam adalah Pantai Lampu Satu, yang terletak di Kampung Buti. Pantai ini memiliki mercusuar yang menjadi sumber cahaya pada malam hari, menciptakan suasana eksotis yang misterius. Pantainya yang landai dan dihiasi nyiur yang melambai mengingatkan kami pada Pantai Ungu di Seuneuddon, Aceh Utara. Momen menikmati matahari terbenam dengan segelas air kelapa menjadi pengalaman yang begitu sempurna.
Selain panorama alamnya yang memukau, Merauke juga memiliki keberagaman budaya dan religius. Kami sempat melaksanakan salat Jumat di Masjid Raya Al-Aqsha, masjid terbesar di Papua Selatan. Kehadiran berbagai etnis di tempat ibadah ini menegaskan bahwa Merauke adalah kota yang inklusif, di mana komunitas Aceh dan Minang juga dapat ditemui setelah salat Jumat.
5. Merauke sebagai Pusat Ketahanan Pangan
Merauke juga dikenal sebagai pusat pengembangan industri pangan melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Keberadaan lahan pertanian ini berkontribusi terhadap stabilitas harga bahan pokok di Papua, terutama beras. Dibandingkan dengan daerah lain, Merauke merupakan penghasil beras terbesar di Papua, yang disuplai ke kota-kota lainnya di wilayah ini.
Jika pasokan beras harus didatangkan dari Sulawesi atau Jawa, maka harga akan menjadi lebih mahal karena biaya transportasi dan distribusi yang tinggi. Meskipun masyarakat asli Papua lebih banyak mengonsumsi sagu dan jagung, keberadaan beras tetap menjadi indikator keamanan pangan bagi masyarakat non-Papua.
Namun, program MIFEE juga mendapat kritik karena dianggap menyebabkan deforestasi dan berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan di Merauke. Diharapkan bahwa proyek ini benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat setempat, bukan sekadar eksploitasi sumber daya demi keuntungan ekonomi semata.[]
Penulis : Teuku Kemal Fasya/Bustami
