-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kriyasi Sulam dan Anyam Digelar di Lhokseumawe, Dorong UMKM Kriya Naik Kelas

September 04, 2026 Last Updated 2026-09-04T01:33:51Z

LHOKSEUMAWE –
Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Kriya, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis kerajinan di Kota Lhokseumawe melalui kegiatan Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Sulam dan Anyam Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Diana Lhokseumawe, Senin (31/8/2026), tersebut diikuti 52 pelaku usaha kriya dari tiga gampong di Kecamatan Blang Mangat, yakni Gampong Blang Cut, Jambo Mesjid dan Tunong.

Dari total peserta tersebut, sebanyak 24 orang merupakan pelaku usaha anyaman, sedangkan 28 peserta lainnya bergerak di bidang sulam. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas, kreativitas dan produktivitas para perajin sekaligus memperkuat daya saing produk kriya lokal.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala DPMPTSP, Kepala Diskominfo, Plt. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Plt. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop), Camat Blang Mangat, utusan Dekranasda, serta para peserta.

Dalam arahannya, Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Ekonomi Kreatif yang telah melaksanakan program pengembangan produk kriya di Kota Lhokseumawe.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku usaha sulam dan anyam yang selama ini menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif daerah.

“Kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku usaha kriya, sulam dan anyam. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sayuti.

Ia menambahkan, penguatan sektor ekonomi kreatif juga menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat memulihkan kondisi ekonomi pascabencana banjir yang sempat berdampak terhadap berbagai aktivitas usaha.

“Banjir telah memberikan dampak negatif terhadap berbagai sektor usaha masyarakat. Sebagian aktivitas ekonomi mengalami penurunan, bahkan ada yang sempat terhenti,” katanya.

Karena itu, Sayuti berharap program pengembangan kriya tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan serta dukungan sarana produksi.

Ia meminta adanya dukungan berupa peralatan dan mesin produksi sehingga para perajin dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas usahanya.

Menurutnya, Gampong Blang Cut, Jambo Mesjid dan Tunong memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra kerajinan di Kota Lhokseumawe.

“Ketiga gampong ini merupakan sentra kerajinan di Kota Lhokseumawe. Potensi ini harus terus dikembangkan agar produk yang dihasilkan semakin produktif, memiliki kualitas dan mampu bersaing, baik di pasar domestik, nasional maupun internasional,” ujarnya.

Sayuti menegaskan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Dekranasda dan para pelaku usaha. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha kriya secara berkelanjutan.

Melalui pendampingan yang konsisten serta penguatan sarana dan prasarana produksi, kata dia, sektor ekonomi kreatif di Lhokseumawe diharapkan mampu melahirkan produk-produk inovatif sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Kriya Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana, S.Sos., M.Si., secara resmi membuka kegiatan Kriyasi Sulam dan Anyam Tahun 2026.

Dalam arahannya, Neli meminta seluruh peserta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas dalam mengembangkan produk kriya.

“Kami berharap para peserta mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kapasitas dan kreativitas sehingga ilmu yang diperoleh nantinya dapat diterapkan di lapangan,” kata Neli.

Ia menjelaskan, pihaknya menghadirkan empat narasumber yang berasal dari Jakarta dan Yogyakarta. Masing-masing dua narasumber akan memberikan pendampingan khusus di bidang anyam dan sulam.

Pelatihan akan dilaksanakan secara luring atau tatap muka selama dua hari. Setelah itu, pendampingan akan dilanjutkan secara daring hingga 21 September 2026.

Neli berharap proses pelatihan dan pendampingan tersebut dapat memberikan perubahan terhadap kualitas produk yang dihasilkan para peserta, baik dari sisi kreativitas, teknik produksi maupun pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dengan adanya program tersebut, pemerintah berharap potensi kerajinan sulam dan anyam di Lhokseumawe tidak hanya mampu bertahan sebagai produk kerajinan tradisional, tetapi berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah dan memiliki daya saing lebih luas.

Penguatan kapasitas perajin, dukungan sarana produksi dan kesinambungan pendampingan menjadi faktor penting agar potensi kriya di tiga gampong tersebut dapat berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kota Lhokseumawe.
×
Berita Terbaru Update