SIDOARJO — Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus bertambah. Hingga Rabu (2/9/2026), jumlah korban tercatat mencapai 566 orang, dengan mayoritas merupakan santri dan santriwati Pesantren Manbaul Hikam.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Lakhsmie, mengatakan selain santri Pesantren Manbaul Hikam, korban juga berasal dari siswa di 19 lembaga pendidikan yang berada di sekitar wilayah Tanggulangin.
Para korban mengalami sejumlah gejala, di antaranya mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin pada Selasa (1/9).
“Untuk sementara, gejala yang paling banyak ditemukan adalah mual, muntah, dan pusing,” kata Lakhsmie.
Dari ratusan korban tersebut, sebanyak 88 orang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Lakhsmie memastikan kondisi pasien yang menjalani rawat inap secara umum stabil dan tidak ada yang membutuhkan perawatan khusus.
Para pasien dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan yang disiagakan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, antara lain RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.
Sementara itu, sebanyak 470 korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dinilai membaik. Pemulangan dilakukan berdasarkan pemeriksaan dan kondisi klinis masing-masing pasien.
“Kalau masih ada keluhan tentu tetap dilakukan kontrol. Namun jika kondisi sudah membaik dan obat yang diberikan cukup, pasien bisa menyelesaikan perawatan di rumah,” ujarnya.
Dinkes Aktifkan Krisis Kesehatan
Besarnya jumlah korban membuat Dinas Kesehatan Sidoarjo mengaktifkan status krisis kesehatan sejak kasus tersebut pertama kali dilaporkan.
Penanganan dilakukan melalui dua jalur, yakni penanganan di lapangan dan pelayanan di rumah sakit. Di lapangan, petugas puskesmas dikerahkan untuk melakukan koordinasi dan penanganan awal. Sementara sejumlah rumah sakit disiagakan dengan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung lainnya.
Menurut Lakhsmie, penanganan terhadap sebagian besar korban telah berjalan dan kondisi pasien secara umum membaik. Saat ini, perhatian difokuskan terhadap puluhan korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Di sisi lain, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih dalam penyelidikan. Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sejumlah sampel, termasuk muntahan pasien dan bahan makanan dari SPPG yang menjadi pemasok MBG.
Sampel tersebut akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab munculnya gejala pada para korban. Hasil pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan.
Namun, Lakhsmie menegaskan investigasi tidak hanya berfokus pada hasil laboratorium. Pemerintah juga akan mengevaluasi seluruh prosedur operasional standar (SOP) pengolahan dan distribusi makanan.
Evaluasi akan mencakup proses sejak bahan makanan diterima, pengolahan, penyimpanan, hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Pemeriksaan juga akan melibatkan sejumlah instansi terkait, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Badan Gizi Nasional (BGN) turut mengambil langkah setelah menerima laporan mengenai dugaan keracunan tersebut. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan SPPG Kalitengah Tanggulangin yang memasok makanan kepada para siswa dan santri telah dihentikan sementara operasionalnya.
SPPG tersebut diketahui memasok sekitar 2.800 porsi makanan setiap hari untuk sejumlah sekolah dan pesantren. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 porsi diperuntukkan bagi santri Pesantren Manbaul Hikam.
Penghentian operasional dilakukan sebagai langkah pencegahan sembari menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Teguh mengatakan sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
BGN pusat juga telah mengeluarkan keputusan untuk melakukan suspensi sementara terhadap SPPG Kalitengah Tanggulangin. Durasi penghentian operasional akan ditentukan setelah evaluasi dan hasil uji laboratorium selesai.
“Untuk sementara disuspensi. Selanjutnya akan dilakukan evaluasi dan menunggu hasil laboratorium untuk menentukan apakah penghentian ini tetap sementara atau menjadi penghentian permanen,” kata Teguh.
Pemerintah kini menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan sumber masalah dalam kasus tersebut. Selain memastikan kondisi para korban, evaluasi terhadap tata kelola penyediaan makanan MBG menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.[CNN Indonesia]
