-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Aceh Terjadi November 2026

September 30, 2026 Last Updated 2026-09-29T23:05:51Z

BMKG Aceh menyampaikan perkembangan kondisi cuaca Aceh untuk beberapa bulan kedepan kepada Pemerintah Aceh. Foto: Istimew

BANDA ACEH –
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Aceh terjadi pada November 2026. Dari 16 Zona Musim (ZOM) yang dipantau, sebanyak 10 ZOM atau 62,5 persen diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada bulan tersebut.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda sekaligus Koordinator UPT BMKG Provinsi Aceh, Cucu Kusmanyancu, mengatakan perkembangan kondisi cuaca dalam beberapa bulan ke depan perlu menjadi perhatian, terutama dengan mulai masuknya musim hujan di sejumlah wilayah Aceh.

“Selain November, satu ZOM atau 6,25 persen diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada Oktober, sedangkan lima ZOM atau 31,25 persen lainnya pada Desember,” kata Cucu, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, puncak musim hujan di Aceh tersebar dalam tiga periode. Wilayah yang diprakirakan mencapai puncak pada November meliputi ACEH_01, ACEH_02, ACEH_05, ACEH_06, ACEH_07, ACEH_08, ACEH_09, ACEH_10, ACEH_13, dan ACEH_16.

Sementara itu, ACEH_14 diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada Oktober. Adapun lima ZOM yang diprediksi mencapai puncak pada Desember terdiri atas ACEH_03, ACEH_04, ACEH_11, ACEH_12, dan ACEH_15.

“Berdasarkan 16 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Aceh, prakiraan puncak musim tersebar ke dalam tiga bulan, Oktober, November, dan Desember,” ujarnya.

Tujuh ZOM Diprediksi di Atas Normal

Selain waktu puncak musim hujan, BMKG juga memprakirakan sifat musim hujan di Aceh berada dalam dua kategori, yakni normal dan atas normal.

Sebanyak sembilan ZOM atau 56,25 persen diprakirakan berada dalam kategori normal. Wilayah tersebut meliputi ACEH_01, ACEH_02, ACEH_05, ACEH_07, ACEH_11, ACEH_12, ACEH_13, ACEH_14, dan ACEH_16.

Sementara tujuh ZOM atau 43,75 persen diprakirakan mengalami musim hujan dengan sifat atas normal. Wilayah tersebut meliputi ACEH_03, ACEH_04, ACEH_06, ACEH_08, ACEH_09, ACEH_10, dan ACEH_15.

Seiring prakiraan tersebut, BMKG memperkuat sistem pemantauan cuaca dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di Aceh.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah peresmian High Frequency (HF) Radar di Selat Sabang. Peralatan tersebut digunakan untuk mendukung pengamatan kondisi laut, antara lain tinggi gelombang, arus, dan angin, sekaligus mendukung pemantauan potensi tsunami.

“Upaya itu antara lain melalui peresmian High Frequency (HF) Radar di Selat Sabang untuk mengamati tinggi gelombang, arus, angin, serta potensi tsunami,” kata Cucu.

BMKG juga menyampaikan pembangunan radar cuaca dan sejumlah peralatan pendukung lainnya sebagai bagian dari program prioritas nasional dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana 2025.

Sekolah Lapang di Lima Lokasi

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca dan kebencanaan, BMKG juga merencanakan pelaksanaan Sekolah Lapang Gabungan di lima lokasi.

Kegiatan tersebut akan mencakup Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Iklim (SLI), serta Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG).

Cucu juga mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh yang telah mengeluarkan surat kesiapsiagaan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Surat tersebut berlaku selama tiga bulan ke depan.

Plt. Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, mengatakan informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG menjadi bagian penting dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana.

“Informasi seperti ini sangat penting, terutama bagi masyarakat. Kami juga terus memberikan informasi kesiapsiagaan kepada kabupaten/kota karena ini merupakan bagian dari tugas kita. Untuk itu, kami membutuhkan saran dan masukan dari pihak-pihak terkait,” ujar Taufik.

Pemerintah Aceh, kata dia, akan terus memperkuat penyampaian informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama periode musim hujan.

Dengan puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung secara bertahap mulai Oktober hingga Desember, masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi BMKG dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi cuaca ekstrem serta bencana hidrometeorologi.[]

×
Berita Terbaru Update