JAKARTA — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak besar terhadap masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 40.040 warga mengungsi dan 11.925 rumah mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah pengungsi tersebut tidak seluruhnya menunjukkan bahwa rumah warga mengalami kerusakan. Sebagian masyarakat memilih mengungsi karena dampak psikologis yang ditimbulkan gempa.
“Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah. Jadi, perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya, namun ini karena banyaknya dampak psikologis yang dirasakan oleh warga,” kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (18/8/2026).
Berdasarkan data BNPB, Kabupaten Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni sekitar 15.465 jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas 966 orang yang mengungsi di posko dan 14.499 orang lainnya mengungsi secara mandiri.
Kabupaten Manggarai berada di urutan berikutnya dengan 6.847 pengungsi, disusul Kabupaten Nagekeo sebanyak 6.221 orang. Sementara itu, Kabupaten Sikka tercatat memiliki 5.681 pengungsi, Ende 3.666 orang, Ngada 1.920 orang, dan Manggarai Barat sebanyak 600 orang.
Selain menyebabkan warga mengungsi, gempa juga mengakibatkan kerusakan pada ribuan rumah. BNPB mencatat total 11.925 unit rumah mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.516 rumah masuk kategori rusak berat, 1.916 rumah rusak sedang, dan 4.493 rumah rusak ringan.
Berton mengatakan sejumlah wilayah mengalami dampak kerusakan rumah cukup besar. Kabupaten Nagekeo tercatat sebagai daerah dengan jumlah rumah rusak tertinggi, yakni 2.862 unit.
Berikutnya, Kabupaten Manggarai Barat mencatat 2.827 rumah rusak, sedangkan Kabupaten Ngada sebanyak 2.296 unit.
“Daerah dengan rusak tertinggi adalah di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Ngada,” ujar Berton.
BNPB terus melakukan pemutakhiran data terkait dampak gempa, termasuk jumlah pengungsi dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah terdampak. Data tersebut menjadi dasar dalam penanganan darurat serta penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
Pemerintah bersama unsur terkait juga terus melakukan penanganan terhadap warga terdampak, sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat yang berada di lokasi pengungsian dapat terpenuhi.[CNN Indonesia]
