-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Azhari Cage Biayai Kepulangan Warga Langsa Korban Scam di Kamboja

Agustus 11, 2026 Last Updated 2026-08-11T06:50:55Z


LANGSA –
Kabar baik datang bagi Sukardi (33), warga Gampong Baro, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh. Setelah sekitar delapan bulan terjebak di Kamboja akibat menjadi korban penipuan pekerjaan atau scam, Sukardi akhirnya dapat kembali ke Indonesia dengan bantuan Senator Aceh, Azhari Cage.

Azhari Cage tidak hanya membantu mengurus kepulangan Sukardi, tetapi juga menanggung biaya administrasi, tiket penerbangan dari Kamboja ke Jakarta, hingga biaya perjalanan Sukardi dari Jakarta menuju Aceh.

Azhari mengatakan, dirinya mendapat informasi mengenai kondisi Sukardi setelah pihak keluarga menghubunginya dan meminta bantuan agar Sukardi dapat dipulangkan ke Aceh.

“Saudara Sukardi menghubungi saya untuk meminta bantuan agar bisa dipulangkan ke Aceh dari Kamboja,” kata Azhari Cage.

Sebelum mengambil langkah, Azhari terlebih dahulu memastikan keberadaan Sukardi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja. Ia menghubungi salah seorang petugas KBRI, Dadang, untuk memastikan apakah benar terdapat warga Langsa bernama Sukardi yang sedang berada di tempat penampungan KBRI.

“Karena kita khawatir jangan sampai informasi yang kita terima juga merupakan penipuan, saya menghubungi KBRI di Kamboja, Pak Dadang, untuk memastikan apakah ada warga Langsa bernama Sukardi yang sedang ditampung di sana,” ujarnya.

Setelah dilakukan pengecekan oleh pihak KBRI, keberadaan Sukardi dipastikan benar. Sukardi memang berada di penampungan KBRI Phnom Penh setelah melarikan diri dari tempat kerjanya.

Azhari kemudian meminta pihak KBRI membantu mengurus seluruh administrasi kepulangan Sukardi sekaligus pembelian tiket pesawat. Seluruh biaya tersebut ditanggung oleh Azhari.

“Setelah Pak Dadang mengecek dan ternyata benar ada Sukardi di penampungan KBRI, kita minta agar seluruh administrasinya diurus dan dibelikan tiket untuk kembali ke Indonesia. Biayanya kita tanggung sepenuhnya dan sudah kita transfer,” kata Azhari.

Sukardi dijadwalkan meninggalkan Kamboja pada 10 Agustus 2026 menggunakan maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan QZ-475. Pesawat tersebut bertolak menuju Jakarta sekitar pukul 16.50 WIB dan dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 19.10 WIB.

Setibanya di Jakarta, Sukardi dijemput dan kemudian diarahkan ke kantor perwakilan Aceh di Jakarta untuk mendapatkan tempat menginap selama satu malam. Keesokan harinya, Sukardi dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Aceh menggunakan bus, yang biaya perjalanannya juga dibantu Azhari.

Dijanjikan Pekerjaan di Malaysia

Menurut keterangan Sukardi, perjalanan yang membawanya hingga ke Kamboja bermula pada Desember lalu. Saat itu, ia berangkat dari Langsa menuju Bandara Kualanamu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Sukardi mengaku dijanjikan pekerjaan sebagai pekerja pangkas rambut di wilayah Selangor, Malaysia. Orang yang menawarkan pekerjaan tersebut kemudian mengarahkan Sukardi untuk menaiki pesawat yang disebut sebagai penerbangan transit.

Namun, tanpa diduga, pesawat yang dinaikinya justru mendarat di Phnom Penh, Kamboja.

Sesampainya di Kamboja, Sukardi kemudian bekerja selama sekitar empat bulan. Namun, selama bekerja ia mengaku tidak mendapatkan pembayaran sebagaimana yang dijanjikan.

Kondisi tersebut membuat Sukardi berusaha melarikan diri. Ia kemudian mencari pertolongan dan mendatangi KBRI Phnom Penh.

Sejak Mei, Sukardi ditampung di tempat penampungan KBRI Phnom Penh hingga proses kepulangannya ke Indonesia dapat dilakukan.

Kisah Sukardi menjadi peringatan bagi masyarakat Aceh agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan yang beredar melalui media sosial maupun aplikasi pesan instan.

Azhari Cage mengimbau masyarakat tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang menjanjikan gaji besar atau pekerjaan di luar negeri tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

“Saya ingin mengingatkan masyarakat Aceh agar berhati-hati apabila mendapatkan tawaran pekerjaan melalui WhatsApp, Facebook atau media sosial lainnya. Jangan sampai menjadi korban seperti saudara Sukardi,” ujar Azhari.

Ia juga meminta masyarakat memastikan legalitas perusahaan, identitas pihak yang menawarkan pekerjaan, lokasi pekerjaan, serta dokumen perjalanan sebelum berangkat ke luar negeri.

Kasus yang dialami Sukardi menunjukkan bahwa tawaran pekerjaan yang terlihat meyakinkan di media sosial dapat berujung pada situasi yang membahayakan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menerima tawaran kerja di luar negeri tanpa melakukan verifikasi secara menyeluruh.[]

×
Berita Terbaru Update