Di sebuah Fakultas X di Universitas ternama Kota Petro Dollar, muncul fenomena sosial yang tak kalah menarik dari seminar internasional maupun penelitian berindeks Scopus. Fenomena ini bukan soal kurikulum Merdeka Belajar, bukan pula tentang publikasi jurnal, melainkan… poligami dalam angan-angan para dosen yang katanya “visioner” tapi sering kali salah arah.
Alkisah, ada seorang dosen yang selama ini tampak alim, rajin mengajar, dan sesekali mengutip teori filsafat cinta ala Plato. Diam-diam, beliau menikah lagi dengan seorang janda cantik nan bahenol, tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Saking bangganya, ia memamerkan “prestasi besar” ini kepada kolega-kolega dosen seolah-olah baru saja memenangkan hibah penelitian internasional. Sayangnya, malam pertama yang mestinya menjadi puncak kebahagiaan berubah menjadi tragedi—si janda mendadak marah besar, katanya gara-gara onderdir sang dosen terlalu kekecilan. Paginya, berita itu beredar lebih cepat daripada forward message di grup WhatsApp fakultas.
Seakan nasib masih ingin bergurau, istri pertama pun mengetahui kelakuan “bandot akademik” ini. Bukannya memberi tepuk tangan atau testimoni, istri pertama justru langsung mengajukan perceraian. Dosen itu pun mendadak berubah status: dari “suami berprestasi” menjadi “jomblo terdzolimi”. Ironisnya, ia merasa diperlakukan tidak adil, padahal dirinya sendiri yang bermain api dengan “teori poligami eksperimental”.
Cerita lain tak kalah unik datang dari fakultas yang sama. Seorang dosen, entah karena ingin tampil gagah atau hanya ingin melengkapi portofolio hidup, memutuskan menikahi mantan mahasiswinya sendiri. Tujuannya jelas: menunjukkan kepada dunia akademik bahwa dirinya masih perkasa dan mampu meminang dua wanita sekaligus. Anehnya, istri pertamanya justru tidak marah. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Anggap saja suamiku ini teman sekamar dengan hobi agak aneh.”
Maka lengkaplah sudah drama poligami dalam angan-angan di Fakultas X. Para dosen mungkin bisa mengajar teori manajemen, hukum, bahkan filsafat cinta, tapi ketika masuk ke wilayah “praktikum rumah tangga”, ternyata tak ada silabus yang bisa menyelamatkan mereka. Yang ada hanya tawa, gosip, dan editorial lucu seperti ini yang akan dikenang lama di lorong-lorong kampus.
Dosen-dosen lain pun ikut geleng-geleng kepala. Mereka berbisik-bisik, “Kalau begini, fakultas kita bukan lagi Fakultas X, tapi Fakultas Cinta Ganda.” Bahkan ada yang bercanda, “Jangan-jangan nanti akreditasi kita turun, karena dosen lebih sibuk urusan ranjang daripada riset.”
Di ruang senat fakultas, isu ini sempat jadi bahan obrolan. Bukan karena serius dibahas, tapi karena sulit ditahan tawanya. “Bayangkan saja,” kata salah satu profesor senior, “kita sibuk urus kurikulum Merdeka Belajar, eh kolega kita malah bikin kurikulum Merdeka Poligami.” Ruangan langsung bergemuruh oleh tawa yang menutupi ketegangan rapat.
Fenomena ini juga menjadi bahan analisis para mahasiswa tingkat akhir. “Pak, kalau gini, berarti teori poligami bisa dimasukkan ke mata kuliah Sosiologi Keluarga, ya?” tanya seorang mahasiswa iseng kepada dosennya. Sang dosen hanya tersenyum kecut, sadar bahwa gosip ini akan sulit dihapus dari memori kampus.
Tak sedikit pula mahasiswa yang berandai-andai. “Wah, ternyata bapak-bapak dosen itu punya kehidupan cinta lebih heboh daripada sinetron Indosiar.” Ada yang bahkan bikin meme: wajah sang dosen diedit jadi poster drama Korea dengan judul Love in Petro Dollar City. Meme itu beredar luas di grup WhatsApp mahasiswa, membuat suasana kampus semakin meriah.
Pada akhirnya, kasus-kasus ini membuktikan bahwa poligami bukan hanya soal cinta dan keberanian, tapi juga soal ukuran, ketahanan, dan terutama… konsistensi. Dosen yang gagal dalam percintaan ini kini berjalan di lorong fakultas dengan wajah lesu, seolah-olah baru gagal sidang promosi doktor. Bedanya, ini sidang percintaan yang nilainya langsung E.
Mahasiswi-mahasiswi pun mulai memberi julukan baru: “Pak Bandot Tersakiti.” Julukan ini melekat erat, sulit dilepas, seperti nilai jelek di transkrip akademik. Bahkan satpam kampus pun ikut-ikutan bercanda, “Pak, jangan-jangan nanti ada skripsi judulnya Studi Kasus Poligami Gagal di Fakultas X.”
Yang lebih lucu lagi, cerita ini akhirnya sampai ke telinga Dekan. Alih-alih marah, Dekan hanya tersenyum dan berkata, “Wajar saja, namanya juga Kota Petro Dollar. Di sini orang kaya suka pamer mobil, dosen kita malah pamer janda.” Kalimat itu langsung jadi kutipan legendaris yang dipakai di setiap grup obrolan dosen.
Begitulah, Fakultas X kini punya dua warisan: satu akreditasi Unggul, dan satu lagi cerita poligami dalam angan-angan. Bedanya, kalau akreditasi bisa membanggakan, poligami ini hanya bisa bikin geleng-geleng kepala.
Mungkin sudah saatnya dibuat seminar khusus: “Etika Cinta dan Poligami di Lingkungan Akademik.” Dengan begitu, para dosen bisa belajar bahwa cinta tak bisa dikelola seperti RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Cinta butuh kesetiaan, bukan sekadar eksperimen.
Pada akhirnya, poligami dalam angan-angan ini lebih banyak meninggalkan tawa daripada bahagia. Sebab yang gagal bukan hanya ukuran, melainkan juga logika. Kampus memang tempat ilmu berkembang, tapi juga tempat gosip tumbuh subur, apalagi kalau gosipnya soal dosen dan janda bahenol.[Oleh Asrianda, Dosen Universitas Malikussaleh]
