![]() |
| Foto: Ilustrasi foto cover CNBC Insight |
Pada awal 1830-an, jauh dari hiruk-pikuk Washington D.C., sebuah kapal perang Amerika Serikat berlayar tenang di perairan Brasil. Kapal itu adalah USS Potomac, dan di bawah komando seorang perwira tangguh bernama Kapten John Downes. Hari itu, Downes menerima sebuah pesan singkat namun mengejutkan. Bukan dari atasannya di Angkatan Laut, melainkan langsung dari Presiden Andrew Jackson, orang nomor satu di Negeri Paman Sam.
"Siaga tempur," begitu inti perintah itu.
Sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, Jackson memerintahkan Downes untuk bertindak cepat. Targetnya ada ribuan kilometer jauhnya—sebuah wilayah kecil di ujung barat Kepulauan Nusantara bernama Kuala Batu, yang kini masuk dalam wilayah Provinsi Aceh. Tugas Downes: memberi pelajaran keras kepada siapa pun yang mengancam keselamatan kapal-kapal dagang Amerika di wilayah Hindia Timur.
Perwira Tangguh dan Perjalanan Menuju Timur
John Downes bukan nama asing di kalangan militer Amerika. Dalam buku America’s Forgotten Wars (2021), ia digambarkan sebagai komandan tempur berpengalaman yang sudah malang melintang di berbagai operasi militer di kawasan Pasifik.
Maka, begitu perintah mendarat, dia segera mengubah haluan kapal. USS Potomac dipersenjatai penuh dengan 300 tentara dan deretan meriam, lalu meninggalkan Brasil menuju Afrika Selatan, sebelum akhirnya menyeberangi Samudra Hindia untuk menuju tujuan akhir: Aceh.
Perjalanan ini memakan waktu hampir dua bulan. Di atas gelombang samudra, Downes menyusun siasat. Ia sadar, datang sebagai kapal perang dengan meriam terbuka dan bendera Amerika berkibar hanya akan memancing perlawanan keras dari warga Aceh.
Maka strategi pun diubah secara radikal.
Menyamar Jadi Pedagang Belanda
Dalam laporannya, sejarawan Farish A. Noor menulis dalam Attack, Reprisal and Dealing with the Media Fall-Out: The Battle of Quallah Battoo in 1832 (2014) bahwa seluruh meriam USS Potomac ditarik ke belakang geladak dan pintu-pintu meriam ditutup. Kapal perang ini kemudian menyamar sebagai kapal dagang milik Belanda, sebuah strategi cerdik karena pada masa itu Belanda sudah menjalin hubungan dagang lama dengan Aceh.
Perlu diingat, Aceh saat itu bukan bagian dari Hindia Belanda. Ia berdiri sebagai kerajaan independen yang kuat dan disegani, bahkan memiliki hubungan resmi dengan Kesultanan Ottoman di Turki dan Kerajaan Inggris, seperti dicatat Lee Kam Hing dalam The Sultanate of Aceh (1995).
Serangan Fajar yang Membakar Kuala Batu
Ketika USS Potomac merapat di perairan Kuala Batu, strategi penyamaran berjalan mulus. Tidak ada yang curiga. Kapten Downes mengirim anak buahnya ke daratan dengan dalih berdagang. Padahal, mereka tengah memetakan wilayah dan menculik pedagang lokal untuk mengumpulkan informasi kekuatan pertahanan setempat.
Pada fajar tanggal 6 Februari 1832, serangan dimulai. Sebanyak 300 tentara Amerika menyerbu Kuala Batu secara tiba-tiba, menghancurkan permukiman warga yang tidak bersenjata.
Warga terkejut. Mereka mengira sedang menjamu pedagang biasa, bukan pasukan tempur. Meskipun sempat melakukan perlawanan, mereka kalah telak.
Menurut laporan New York Observer tertanggal 7 Juli 1832, tiga benteng berhasil direbut hanya dalam waktu tiga jam, dan 80 hingga 100 warga lokal tewas. Sementara dari pihak Amerika hanya dua orang yang dilaporkan gugur.
Namun sumber lain menyebutkan angka korban yang jauh lebih besar. Sejarawan meyakini bahwa jumlah korban sipil bisa mencapai 500 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Dipuja, Lalu Dikecam
Awalnya, tentara Amerika dipuji sebagai pahlawan nasional. Namun, suasana berubah cepat. Publik Amerika mulai mengetahui cara-cara brutal yang digunakan dalam serangan itu—penyamaran sebagai pedagang, serangan saat warga tidur, serta eksekusi tanpa negosiasi.
Farish A. Noor menyebut, kecaman dari media dan tokoh masyarakat mulai menggema. Tentara AS yang semula dielu-elukan, kemudian dicap sebagai pembunuh biadab.
Presiden Jackson sendiri sempat mendapat tekanan politik akibat insiden ini. Namun dengan pengaruh politik yang kuat, ia berhasil meredam badai kritik. Meski begitu, sejarah tidak lupa mencatat luka itu.
Menguak Latar Belakang Konflik
Apa yang sebenarnya memicu kemarahan Amerika?
Beberapa bulan sebelum serangan, kapal dagang Friendship milik AS dilaporkan diserang dan dirampok di Kuala Batu. Pemerintah AS menuduh penduduk setempat sebagai pelaku.
Namun dalam Death on an Empire (2011), sejarawan Robert Booth memaparkan bahwa insiden itu bukan sekadar aksi perompakan. Warga Kuala Batu sudah lama merasa dikhianati dalam hubungan dagang. Pedagang AS dituduh sering mengurangi takaran dan menipu harga, membuat ketegangan menumpuk hingga akhirnya meledak ketika kapal Friendship datang.
Sayangnya, alih-alih menyelesaikan masalah melalui diplomasi, pemerintah Amerika memilih jalan kekerasan. Dan lebih ironis lagi, serangan ini justru membuka jalan bagi Belanda untuk memperkuat klaim dan pengaruhnya atas Aceh.
Dalam dekade-dekade berikutnya, Aceh yang semula merdeka menjadi medan perang kolonial. Serangan USS Potomac menjadi babak pembuka dari perang panjang dan berdarah yang pada akhirnya mengubah sejarah Aceh selamanya.[cnbcindonesia.com]
