Oleh Asrianda, Dosen Universitas Malikussaleh
KOTA Lhokseumawe memiliki potensi besar dalam membangun masyarakat yang sehat, aktif, dan terlibat secara sosial. Salah satu langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut adalah dengan membangun lapangan badminton rakyat yang mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Ini bukan hanya soal olahraga, melainkan tentang menghadirkan ruang publik yang mendekatkan warga dengan gaya hidup sehat dan kebersamaan sosial.
Badminton bukan sekadar permainan, tapi bagian dari budaya dan olahraga yang sudah merakyat. Di sudut-sudut kampung, lorong-lorong sempit, bahkan di halaman rumah, anak-anak hingga orang dewasa bermain badminton dengan segala keterbatasan. Ini menjadi bukti bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi, tetapi sayangnya, belum dibarengi dengan fasilitas publik yang layak dan memadai.
Ketiadaan lapangan yang representatif membuat banyak warga harus menyewa gedung atau bermain di lokasi seadanya yang kurang aman dan tidak layak. Hal ini tentu membatasi partisipasi masyarakat, terutama dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Bila Pemko Lhokseumawe benar-benar ingin dekat dengan rakyat, membangun lapangan badminton terbuka di setiap kecamatan adalah langkah sederhana namun sangat berdampak.
Pembangunan lapangan badminton rakyat dapat menjadi simbol pemerintahan yang inklusif dan inovatif. Di tengah banyaknya pembangunan fisik yang kaku dan kurang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, lapangan olahraga justru menjadi tempat interaksi sosial, pembentukan karakter, hingga wadah pembinaan atlet muda. Ini adalah investasi sosial jangka panjang yang akan mengangkat nama daerah.
Tak hanya untuk olahraga dan kesehatan, lapangan ini dapat menjadi pusat aktivitas komunitas. Turnamen antar-gampong, pelatihan rutin, hingga kegiatan seni dan budaya bisa difasilitasi di area tersebut. Dengan manajemen sederhana berbasis komunitas, lapangan badminton rakyat dapat hidup dan berkembang sebagai ruang interaktif yang positif bagi warga.
Dari sisi anggaran, pembangunan lapangan badminton tidak membutuhkan biaya besar dibanding proyek-proyek infrastruktur lain. Namun nilai manfaat sosial dan ekonominya sangat luas. Apalagi jika digabungkan dengan skema partisipasi publik, seperti CSR perusahaan di sekitar Lhokseumawe, maka proyek ini akan menjadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Inisiatif ini juga bisa memperkuat branding kota. Lhokseumawe bisa dikenal sebagai kota yang peduli terhadap olahraga dan ruang publik. Citra ini penting untuk menarik perhatian generasi muda dan investor yang kini tak hanya melihat kota dari sisi ekonominya, tapi juga dari kualitas hidup dan kelengkapan fasilitas sosialnya.
Pemko Lhokseumawe tidak perlu menunggu kajian rumit untuk memulai. Cukup dengan kemauan politik, dialog dengan warga, dan eksekusi cepat—maka proyek lapangan badminton rakyat bisa segera terwujud. Bahkan, dalam jangka pendek, pembangunan ini akan langsung dirasakan manfaatnya oleh warga, terutama anak-anak dan remaja yang haus akan ruang aman dan sehat untuk beraktivitas.
Sudah saatnya kita melihat kebijakan publik dari kacamata rakyat kecil. Mereka tidak meminta gedung megah atau stadion besar, tapi hanya butuh tempat untuk berkumpul, bermain, dan membangun semangat kebersamaan. Jika pemerintah mampu memenuhi hal sederhana ini, maka kepercayaan rakyat akan tumbuh secara alami.
Lapangan badminton untuk rakyat adalah inovasi cerdas yang seharusnya menjadi prioritas. Ia menjawab kebutuhan dasar: kesehatan, ruang publik, partisipasi sosial, hingga pembangunan karakter. Pemko Lhokseumawe, mari mulai dari sini. Dari satu lapangan sederhana, kita bisa menumbuhkan semangat besar untuk Lhokseumawe yang lebih sehat, kuat, dan bersatu.[]
