-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Di Tengah Konflik dan Bencana, Lansia Tak Boleh Dilupakan

Oktober 02, 2026 Last Updated 2026-10-02T08:32:50Z


JAKARTA –
Bagi sebagian orang lanjut usia, bertambahnya usia sudah menghadirkan berbagai tantangan. Penglihatan dan pendengaran yang menurun, nyeri sendi, keterbatasan bergerak, hingga penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi dan penyakit jantung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, tantangan tersebut menjadi jauh lebih berat ketika mereka hidup di tengah perang, bencana alam, atau berada di tempat pengungsian dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Di tengah situasi darurat, perhatian kemanusiaan sering kali tertuju pada kebutuhan yang paling mendesak. Kondisi lansia, yang membutuhkan perhatian khusus, terkadang tidak mendapatkan porsi yang memadai.

Lansia juga menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat. Kehilangan pasangan, terpisah dari anak, kesepian, keterasingan, hingga berkurangnya kemampuan memenuhi kebutuhan dasar menjadi beban yang harus mereka tanggung.

Tidak sedikit lansia di wilayah konflik dan pengungsian justru harus mengambil peran sebagai pengasuh. Ketika anak-anak mereka meninggal atau terpisah akibat konflik, kakek dan nenek harus merawat cucu-cucunya meski pada saat yang sama mereka sendiri membutuhkan bantuan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian LIFE for Relief and Development, organisasi kemanusiaan yang selama puluhan tahun menjalankan program bantuan di berbagai negara.

Lansia Membutuhkan Lebih dari Sekadar Obat

Direktur Program Nasional dan Internasional LIFE for Relief and Development, Vicki Roob, mengatakan perlindungan terhadap lansia semakin penting seiring perubahan demografi dunia.

Menurutnya, data United Nations Population Fund (UNFPA) menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas saat ini mencapai sekitar delapan persen dari populasi dunia. Di kawasan Arab, jumlah lansia diperkirakan meningkat dari sekitar 27 juta orang pada 2015 menjadi 50 juta pada 2030 dan lebih dari 80 juta pada 2045.

Perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap layanan bagi lansia tidak dapat dipandang sebagai program tambahan dalam kerja kemanusiaan.

Selama 34 tahun, LIFE telah menjalankan berbagai program di sekitar 60 negara. Kebutuhan lansia diintegrasikan dalam berbagai program, mulai dari respons keadaan darurat, bantuan bagi pengungsi dan pengungsi internal, hingga program jangka panjang untuk mendukung masyarakat.

Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa layanan kesehatan. Penyediaan air bersih, bantuan musiman, dukungan keluarga, program sponsorship dan pendidikan juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Perhatian khusus diberikan kepada keluarga yang menjadikan kakek atau nenek sebagai pengasuh utama anak-anak.

Dari Panti Jompo hingga Kamp Pengungsian

Di Yordania, Direktur Kantor LIFE, Nada Haroun, menggambarkan bagaimana dukungan diberikan kepada lansia yang tinggal di panti-panti perawatan.

Bantuan diberikan kepada lansia yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang agama. Namun, perhatian tersebut tidak berhenti pada bantuan material.

Para relawan juga mengajak lansia berdialog dan mendengarkan kisah hidup mereka. Makanan yang sesuai dengan kebutuhan, hadiah simbolis, hingga kegiatan rekreatif menjadi bagian dari program.

Lansia juga diperkenalkan dengan dasar-dasar penggunaan teknologi agar mereka tetap dapat berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Dalam situasi darurat dan pengungsian, kebutuhan mereka semakin kompleks. Obat-obatan penting, pemeriksaan kesehatan berkala, pemantauan pengobatan hingga dukungan perawat dan tim medis keliling diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Bantuan makanan bergizi, pakaian dan selimut juga diberikan, terutama ketika musim dingin. Bagi lansia yang menjadi tulang punggung keluarga dan harus menanggung kebutuhan cucu yang kehilangan orang tua, bantuan keuangan menjadi salah satu bentuk dukungan yang penting.

Di Palestina, Lansia Menghadapi Trauma dan Kehilangan

Direktur Kantor LIFE di Palestina, Nora Swalmeh, mengatakan menjangkau lansia yang membutuhkan bantuan bukan perkara mudah. Sebagian dari mereka berada dalam kondisi rentan, tetapi enggan atau tidak mampu meminta bantuan.

Sebuah program di Bethlehem, Beit Sahour dan Beit Jala, misalnya, diarahkan untuk membantu lansia yang membutuhkan perawatan berkelanjutan, termasuk mereka yang hidup dengan disabilitas.

Sementara di Gaza, bantuan kemanusiaan dan medis serta perlengkapan musiman terus disalurkan kepada keluarga terdampak yang tinggal di kamp-kamp pengungsian.

Sebagian keluarga memiliki anggota lansia dengan penyakit kronis. Ada pula lansia yang kehilangan anak dalam perang dan kemudian harus mengambil tanggung jawab merawat cucu-cucu mereka yang menjadi yatim piatu.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan lansia dalam krisis bukan hanya persoalan kesehatan fisik. Rasa aman, dukungan psikologis, hubungan sosial dan kemampuan mempertahankan martabat juga menjadi kebutuhan penting.

Kisah yang Tak Selalu Terucapkan

Di balik program kemanusiaan tersebut terdapat kisah para lansia yang menggambarkan betapa pentingnya bantuan sederhana bagi kehidupan mereka.

Di Lebanon, Simon, 65 tahun, mengatakan salah satu beban terberat yang dihadapinya adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan privasi dan martabat. Bantuan medis yang diterimanya membuat sebagian penderitaan berkurang dan membantunya merasa lebih mandiri.

Di Gaza, Abu Nasser, 71 tahun, harus merawat enam anak setelah putra dan menantunya meninggal dunia. Bantuan berupa makanan, perlengkapan kebersihan pribadi dan air membantu mengurangi kekhawatirannya terhadap kondisi cucu-cucunya.

Bagi Abu Nasser dan istrinya, tersedianya fasilitas sanitasi di tempat pengungsian juga memberikan arti penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Amina, 78 tahun, di Somalia, terbiasa menjalani kehidupan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Ia kerap dipaksa memilih kebutuhan mana yang harus didahulukan.

Bantuan yang diterimanya memungkinkan Amina membeli makanan dan kebutuhan pokok tanpa harus mengorbankan kebutuhan lainnya. Baginya, bantuan tersebut bukan hanya memenuhi kebutuhan material, tetapi juga memberikan ketenangan.

Mencari Rasa Aman di Tengah Krisis

Di Sudan, Iman, 59 tahun, harus menyelamatkan diri bersama putrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya. Mereka melarikan diri dari perang dan menghadapi perampokan dalam perjalanan hingga akhirnya tiba di Mesir.

“Kami melarikan diri dari perang dan harus menghadapi para perampok di jalan hingga akhirnya tiba dengan selamat di Mesir. LIFE kemudian membantu kami dengan tempat tinggal, makanan, obat-obatan, serta pemeriksaan medis untuk saya dan putri saya,” tuturnya.

Pengalaman berbeda dirasakan Abu Mahmoud, 54 tahun, di Yordania. Saat pertama kali tinggal di panti lansia, ia mengaku mengalami kesepian yang mendalam.

Kehadiran relawan yang mau berbicara dan mendengarkan membuatnya merasa kembali diperhatikan.

“Ketika baru masuk ke panti lansia, saya mengalami kesunyian yang menyakitkan. Saya merasa bahagia ketika tim relawan datang berbicara dengan kami dengan cara yang menyenangkan dan penuh kesopanan,” katanya.

Di Republik Dominika, Pedro, 71 tahun, merasakan kebahagiaan ketika melihat cucu-cucunya kembali bersekolah setelah LIFE membantu merehabilitasi sekolah mereka.

Bagi Pedro, bantuan tersebut bukan hanya menyangkut pendidikan. Kembalinya cucu-cucunya ke ruang kelas juga mengurangi beban yang selama ini ia rasakan ketika harus mencari bantuan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Di Yaman, Jamila, 70 tahun, menerima bantuan darurat setelah banjir melanda wilayah tersebut. Lansia menjadi salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam respons bantuan.

Sementara di Sierra Leone, Fatoumata, 58 tahun, yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit, tersenyum ketika tim LIFE datang membawa makanan kaya vitamin untuk para lansia.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa dalam situasi konflik dan bencana, kebutuhan lansia tidak selalu dapat diukur hanya dari jumlah obat, makanan atau bantuan yang diberikan.

Bagi sebagian mereka, didengarkan, diperlakukan dengan hormat, dapat berkomunikasi dengan keluarga, merasa aman dan mampu menjalani kehidupan dengan bermartabat merupakan bagian penting dari bantuan kemanusiaan.

Pada akhirnya, perlindungan terhadap lansia bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan kelompok rentan. Ia juga menyangkut bagaimana masyarakat memastikan bahwa mereka yang telah melewati sebagian besar perjalanan hidupnya tetap mendapatkan tempat, perhatian dan martabat, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka sedang dilanda krisis.[]

×
Berita Terbaru Update