-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dari “Unimal Hebat” Menuju Kampus Unggul

Agustus 19, 2026 Last Updated 2026-08-19T14:51:43Z


DI
tanah yang dahulu menjadi pusat kejayaan Kesultanan Samudera Pasai, semangat membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan terus menemukan bentuknya. Nama Sultan Malikussaleh tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi menjadi inspirasi yang menghidupkan perjalanan sebuah perguruan tinggi yang kini menjadi salah satu kekuatan pendidikan di pesisir utara Aceh yaitu Universitas Malikussaleh (Unimal).

Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Unimal berubah cukup signifikan. Kampus yang terus berkembang itu tidak hanya ditandai dengan bertambahnya jumlah mahasiswa dan program studi, tetapi juga hadirnya berbagai fasilitas pendidikan baru, meningkatnya jumlah guru besar, bertambahnya program studi dengan akreditasi unggul, hingga diraihnya Akreditasi Unggul institusi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Di balik perubahan tersebut, sosok Rektor Unimal, Prof. Dr. Ir. Herman Fithra ASEAN Eng, menjadi salah satu figur penting dalam perjalanan pembangunan dan transformasi kampus tersebut.

Kepemimpinan Herman Fithra ditandai dengan pembangunan infrastruktur pendidikan dalam skala besar. Sejumlah gedung baru berdiri untuk memperkuat sarana akademik, mulai dari tujuh gedung fakultas, tiga Gedung Kuliah Umum (GKU) yang dibangun melalui dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB), Gedung Rektorat, hingga Gedung Auditorium dengan kapasitas sekitar 3.000 orang.


Tonggak penting perjalanan tersebut terjadi pada 2025. Unimal berhasil meraih Akreditasi Unggul dari BAN-PT.

Predikat tersebut menjadi penanda penting perjalanan panjang pembenahan institusi. Akreditasi Unggul tidak hanya berbicara tentang pemenuhan standar administratif, tetapi juga menjadi gambaran mengenai tata kelola, mutu akademik, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aspek lain yang menjadi ukuran kualitas sebuah perguruan tinggi.

Transformasi itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya. Sejak 2019, gerakan “Unimal Hebat” menjadi salah satu semangat perubahan yang mendorong pembenahan di berbagai bidang.

Tata kelola diperkuat. Kualitas pembelajaran terus ditingkatkan. Kurikulum diarahkan agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Layanan akademik mulai bergerak menuju digitalisasi. Pada saat yang sama, jejaring kerja sama dengan berbagai institusi di tingkat nasional maupun internasional terus diperluas.

“Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika,” kata Prof. Herman.

Pencapaian tersebut bukan semata-mata menjadi kebanggaan internal kampus. Predikat itu sekaligus merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat yang telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada Unimal.

Pertumbuhan Unimal dapat dilihat dari angka mahasiswa yang terus meningkat. Saat ini, Unimal mengelola 58 program studi yang tersebar di tujuh fakultas, dengan jumlah mahasiswa aktif mendekati 30 ribu orang.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar jika dibandingkan dengan kondisi pada 2018. Ketika itu, jumlah mahasiswa Unimal berada di angka 20.658 orang.

Pertambahan tersebut juga berjalan beriringan dengan tingginya minat masyarakat. Setiap tahun, puluhan ribu calon mahasiswa menunjukkan ketertarikannya untuk menempuh pendidikan di kampus yang berada di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe tersebut.

Bagi sebuah perguruan tinggi negeri, tingginya jumlah peminat bukan sekadar persoalan angka. Di sana terdapat kepercayaan masyarakat yang harus dijawab dengan kualitas pendidikan, fasilitas yang memadai, serta lulusan yang mampu bersaing setelah menyelesaikan pendidikan.

Untuk menjangkau kebutuhan tersebut, aktivitas akademik Unimal tidak hanya berpusat di satu kawasan. Kegiatan pendidikan tersebar di sejumlah kampus, mulai dari Kampus Reuleuet, Kampus Bukit Indah, Cunda, Lancang Garam, hingga Sigli.

Persebaran kampus tersebut memperluas jangkauan Unimal dalam menyediakan akses pendidikan tinggi sekaligus memperkuat perannya dalam pembangunan sumber daya manusia di Aceh.

Dari dua Profesor menjadi 21

Perubahan Unimal tidak hanya terlihat dari gedung-gedung baru yang berdiri. Di ruang-ruang akademik, perubahan juga berlangsung melalui penguatan sumber daya manusia.

Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan jumlah guru besar.

Pada 2018, Unimal hanya memiliki dua profesor. Delapan tahun kemudian, hingga 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 21 profesor.

Pertumbuhan hampir tujuh kali lipat itu menjadi salah satu gambaran mengenai percepatan pengembangan kapasitas akademik di lingkungan Unimal.

Namun, bertambahnya jumlah profesor bukan sekadar statistik. Di balik setiap gelar guru besar terdapat perjalanan akademik yang panjang. Ada peningkatan kualifikasi dosen, penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan keilmuan, serta pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi.

Kehadiran semakin banyak profesor juga memperkuat posisi Unimal sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Para guru besar memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan riset, melahirkan inovasi, membimbing generasi akademisi berikutnya, sekaligus menawarkan solusi ilmiah terhadap berbagai persoalan masyarakat dan pembangunan.

Program Studi Baru Menjawab Tantangan Zaman

Pertumbuhan Unimal juga terlihat dari keberaniannya membuka ruang bagi disiplin ilmu baru.

Fakultas Teknik, misalnya, menghadirkan dua program studi baru, yakni Teknik Lingkungan serta Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).

Kehadiran kedua program studi tersebut memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan pembangunan masa kini. Persoalan lingkungan, perubahan iklim, urbanisasi, pertumbuhan kawasan, hingga kebutuhan penataan ruang membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Dengan membuka program studi baru, Unimal berupaya membaca kebutuhan masa depan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perubahan, tetapi harus mampu mempersiapkan generasi yang akan hidup dan bekerja di tengah perubahan tersebut.

Di sinilah peran pendidikan tinggi menjadi semakin strategis.

Sebagai perguruan tinggi negeri, Unimal tidak hanya mengembangkan kegiatan pembelajaran. Riset menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kampus unggul.

Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas penelitian dosen menunjukkan peningkatan. Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan semakin kuatnya sumber daya akademik dan bertambahnya jumlah guru besar.

Penelitian menjadi jembatan yang menghubungkan kampus dengan persoalan nyata di masyarakat.

Aceh memiliki kekayaan persoalan sekaligus potensi yang dapat menjadi ruang penelitian, mulai dari pembangunan wilayah, pertanian, lingkungan, ekonomi, hukum, sosial-politik, teknologi, hingga kesehatan.

Karena itu, kampus tidak semestinya hanya menjadi tempat untuk memperoleh gelar. Ia harus menjadi ruang tempat gagasan dilahirkan, diuji, diperdebatkan, dan kemudian diterapkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Semangat tersebut menjadi semakin penting bagi Unimal yang tumbuh di wilayah yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan perdagangan di Asia Tenggara.

Di tengah pertumbuhan jumlah mahasiswa, program studi, dosen, dan aktivitas penelitian, kebutuhan terhadap infrastruktur tentu semakin besar.

Pembangunan tujuh gedung fakultas, tiga GKU melalui pendanaan ADB, Gedung Rektorat, serta Auditorium berkapasitas sekitar 3.000 orang menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan tersebut.

Gedung-gedung baru itu pada akhirnya bukan tujuan akhir. Ia adalah fondasi.

Di dalam gedung fakultas akan berlangsung proses pembelajaran. Di GKU mahasiswa bertemu dengan gagasan dan ilmu dari berbagai disiplin. Di laboratorium penelitian dikembangkan berbagai temuan. Di auditorium berlangsung berbagai kegiatan akademik, kebudayaan, seminar, dan forum yang mempertemukan sivitas akademika dengan masyarakat luas.

Dengan demikian, pembangunan fisik menjadi bagian dari pembangunan ekosistem akademik.

Dalam konteks itulah Prof. Herman kerap dipandang sebagai salah satu figur yang berada di balik fase pembangunan besar Unimal. Kepemimpinannya berlangsung ketika kebutuhan terhadap infrastruktur, peningkatan mutu akademik, dan penguatan daya saing perguruan tinggi berjalan secara bersamaan.

Menjaga Api Malikussaleh

Nama Malikussaleh yang melekat pada universitas ini bukan sekadar identitas. Ia membawa pesan sejarah tentang sebuah kawasan yang pernah menjadi pusat ilmu, perdagangan, dan peradaban.

Kini, berabad-abad setelah kejayaan Samudera Pasai, semangat itu menemukan bentuk baru melalui pendidikan tinggi.

Unimal tumbuh dengan ribuan mahasiswa, ratusan dosen, puluhan program studi, dan semakin banyak profesor. Gedung-gedung baru berdiri. Program studi baru lahir. Penelitian terus dikembangkan. Akreditasi institusi telah mencapai predikat Unggul.[]

×
Berita Terbaru Update