ACEH TAMIANG – Banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025 sempat merenggut harapan banyak warga, termasuk Mariono (43). Namun, ketika air surut dan lumpur mulai dibersihkan, secercah harapan kembali hadir seiring dibukanya kembali bengkel difabel yang menjadi sumber penghidupannya.
Mariono, yang akrab disapa Nono, adalah penyandang tunadaksa asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Rantau. Meski berjalan dengan bantuan tongkat ketiak, keterbatasan fisik tak pernah menghalanginya untuk berkarya. Sejak enam tahun terakhir, ia menekuni profesi sebagai mekanik sepeda motor di bengkel difabel binaan Pertamina EP Rantau Field.
Dengan tangan terampil dan pengalaman yang terasah, Nono mampu “mendiagnosa” kerusakan sepeda motor layaknya mekanik profesional. Baginya, bengkel tersebut bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber kehidupan.
“Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Sejak diberdayakan jadi mekanik, ekonomi saya jadi lebih baik,” tuturnya.
Sebelum mengikuti pelatihan mekanik, Nono hidup tanpa pekerjaan tetap dan bergantung pada keluarga. Kehadiran program pemberdayaan dari perusahaan energi tersebut mengubah jalan hidupnya. Ia bahkan berani menikah setelah memiliki penghasilan tetap dari bengkel.
Namun, cobaan berat datang saat banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025. Bengkel tempatnya bekerja porak-poranda, peralatan rusak, dan penghasilan pun lenyap seketika.
“Semua barang hancur, penghasilan tidak ada. Dalam hitungan hari, semua yang saya bangun hilang,” kenangnya.
Meski demikian, Nono tidak menyerah. Setiap hari ia kembali ke lokasi bengkel di kawasan Karang Baru, bergotong royong bersama rekan-rekannya membersihkan lumpur yang menimbun. Harapan perlahan tumbuh seiring upaya pemulihan.
Bantuan pun datang. Pertamina Lubricants bersama Pertamina EP Rantau Field bergerak cepat memulihkan bengkel difabel tersebut. Peralatan yang rusak diganti, dan aktivitas bengkel kembali berjalan.
Pembukaan kembali bengkel ditandai dengan program ganti oli gratis bertajuk “Yuk Berbagi” yang digelar pada Jumat (13/3). Kegiatan ini menyasar ratusan sepeda motor milik warga terdampak banjir.
Sebanyak 282 botol oli dibagikan secara gratis kepada masyarakat, sekaligus melibatkan tujuh mekanik difabel binaan untuk kembali bekerja dan produktif.
Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program bengkel difabel lahir dari kepedulian terhadap tingginya jumlah penyandang disabilitas di Aceh Tamiang.
“Kami memberikan pelatihan kepada puluhan difabel hingga mereka mampu mandiri dan membuka usaha. Setelah banjir, kami bergerak cepat agar mereka bisa kembali bangkit,” ujarnya.
Sementara itu, Head CSR Pertamina Lubricants, Asep Saputra, menambahkan bahwa program ganti oli gratis tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan bengkel difabel.
“Ini bagian dari upaya membantu warga agar kendaraan mereka kembali bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari,” katanya.
Bagi Nono, dibukanya kembali bengkel bukan sekadar pemulihan usaha, tetapi juga kembalinya harapan untuk hidup yang lebih baik.
“Saya bersyukur bengkel ini dibuka kembali. Ini rezeki bagi kami untuk melanjutkan hidup,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan dan cobaan, Nono membuktikan bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang selama masih ada kemauan untuk bangkit dan tangan-tangan yang saling membantu.[]
