BANDA ACEH — Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh meninggalkan jejak kerusakan masif. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 61.795 rumah mengalami rusak berat.
“Kami melaporkan bahwa per hari ini, khusus Aceh saja, rumah yang rusak berat tercatat 61.795 rumah,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI (Purn) Suharyanto dalam rapat koordinasi pemerintah pusat dan daerah yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).
Namun, tak semua warga terdampak memilih tinggal di Rumah Hunian Sementara (Huntara). BNPB mengungkapkan, 23.432 orang bersedia menempati Huntara, sementara 11.414 orang lainnya memilih tinggal bersama keluarga atau kerabat.
“Tidak semua masyarakat terdampak itu mau tinggal di Huntara, Bapak (Presiden),” kata Suharyanto.
Bagi warga yang memilih tinggal mandiri, pemerintah menyalurkan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600.000 per bulan selama tiga bulan. Total anggaran yang telah digelontorkan mencapai Rp20,54 miliar.
“Per kepala keluarga mendapat Rp600.000 per bulan selama tiga bulan — Desember, Januari, Februari. Hingga kini sudah tersalur kepada 11.414 orang,” jelasnya.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menambahkan, bencana tidak hanya melanda Aceh. Banjir dan longsor juga menghantam Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
“Total rumah yang terdampak lebih kurang 213.000 unit,” ujar Tito. Data tersebut mencakup rumah rusak ringan, sedang, hingga berat.
Pemerintah menargetkan pembangunan 15.000 unit Huntara dalam tiga bulan di tiga provinsi terdampak, dengan anggaran sekitar Rp1 triliun. Khusus Aceh Tamiang, pemerintah melalui Danantara dijadwalkan menyerahkan 600 unit Huntara pada Kamis (8/1/2026).[inilah.com]
