DARI Lhokseumawe, cuaca panas membakar tubuh kami saat duduk di atas tumpukan barang di bak mobil pikap. Di bawah kami tersusun rapi sembako, beras, dan pakaian layak pakai—semua disiapkan untuk warga korban longsor di Bener Meriah dan Takengon.
Begitu memasuki Desa Seumirah, Nisam Antara, melalui jalur KKA, panas itu mendadak hilang. Angin dingin turun perlahan, disusul hujan lebat yang membasahi badan dan barang bawaan. Sambil bergegas, kami menutup bantuan itu dengan terpal agar tetap aman.
Memasuki jalur Bener Meriah, mobil bergerak sangat pelan, merayap di antara sisa-sisa longsor. Jalan yang dulu mulus kini bergelombang, patah, menyempit—sebagian hanya bisa dilalui satu kendaraan saja.
Di balik perjalanan panjang itu, hanya satu tujuan yang kami pegang yaitu memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Pada Jumat (2/1/2026), tim Universitas Malikussaleh (Unimal) melalui UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan, juga didampingi dua mahasiswa Antropologi menyalurkan bantuan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bekerja sama dengan LAZISNU. Bantuan ditujukan bagi warga terdampak di Bener Meriah dan Aceh Tengah.
“Kami juga dibantu oleh tim NU dari Bener Meriah serta Posko NU Peduli di Takengon,” tutur Ketua Posko NU Peduli Lhokseumawe, Dr. Teuku Kemal Fasya, yang memimpin langsung distribusi.
Di Bener Meriah, penyerahan bantuan dipusatkan di Kampung Buntul Peteri dan Bintang Permata, Kecamatan Permata. Sementara di Aceh Tengah, tim bergerak menuju Gampong Jongok Meleum dan Gunung Bahgie, Kecamatan Kebayakan.
Setiap persinggahan menyimpan cerita warga yang bertahan dengan keterbatasan, relawan yang tak pernah lelah, dan aroma tanah basah yang seakan enggan pergi.
Namun perjalanan tidak selalu mudah. Kontur jalan berubah drastis, jembatan darurat masih dalam pengerjaan, dan akses kerap terputus. Berangkat dari Lhokseumawe, tim mengambil jalur Lhokseumawe–Simpang KKA dan pulang melalui Lampahan–Bireuen.
“Perjalanan pulang kami mencapai 10 jam melalui Timang Gajah – Pintu Rime Gayo – Jembatan Teupin Mane hingga kembali ke Lhokseumawe,” kata Kemal. “Situasi ini tentu menyulitkan masyarakat membawa hasil perkebunan mereka ke dataran rendah Aceh.”
Suasana semakin berat ketika tim tiba di Jongok Meleum. Di balik tenda-tenda darurat, aparat dan relawan masih terus mencari seorang korban yang tertimbun tanah longsor sejak 26–27 November 2025.
Pencarian sempat terhenti bukan karena putus asa, melainkan keterbatasan bahan bakar untuk alat berat.
“Luasnya area pencarian membuat prosesnya sangat sulit, apalagi hanya satu unit alat berat yang tersedia,” jelas Kemal.
Apa yang terlihat di lapangan membuat Kemal yakin, pemulihan di Bener Meriah dan Aceh Tengah tidak akan berlangsung singkat. Jalan belum sepenuhnya pulih, sebagian warga masih menunggu bantuan, sebagian lainnya mencoba menata hidup kembali.
Namun, di tengah segala keterbatasan itu, satu hal justru tumbuh yaitu solidaritas. Kampus, lembaga filantropi, relawan, dan masyarakat saling menopang—membuktikan bahwa di balik longsor dan jalan terputus, kepedulian tetap menemukan jalannya.[Bustami Ibrahim]

