-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perjuangan Sunyi di Balik Tuntutan Tukin Dosen

Mei 22, 2025 Last Updated 2025-05-22T10:12:44Z


Oleh Asrianda

PERJUANGAN para dosen menuntut tunjangan kinerja (tukin) bukan sekadar soal gaji atau kesejahteraan, tetapi tentang harga diri dan keadilan. Di balik papan tulis dan ruangan kuliah yang penuh ilmu, ada peluh yang tak terlihat dan beban batin yang kerap dipendam. Ketika hak-hak itu tak terpenuhi, sebagian dari mereka akhirnya memilih untuk bersuara. Bukan karena ingin melawan, tetapi karena mereka tahu bahwa diam terlalu lama hanya akan menumbuhkan ketidakadilan yang semakin dalam.

Namun, perjuangan tak selalu disambut hangat, bahkan sesama sejawat. Seorang dosen yang dengan tulus menuntut tukin, justru diintimidasi oleh rekannya sendiri. Ia diberitahu bahwa dirinya sedang dipantau sebuah kalimat pendek yang sarat tekanan psikologis. Dosen itu, yang awalnya hanya ingin menyuarakan haknya secara damai, kini merasa was-was dan sedih. Bayang-bayang pengucilan dan ketakutan mulai menyelimuti langkahnya, meski ia terus mencoba tegar.

Ironisnya, alih-alih mendapat dukungan, ada pula rekan sejawat yang memilih menjauhi. Dosen itu dikucilkan, dianggap pembuat onar, bahkan dipertanyakan: "Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu?" Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ada jika kita semua benar-benar memahami bahwa keberanian untuk bersuara bisa tumbuh kapan saja, terlebih saat kesabaran telah melewati batasnya.

Satu per satu mereka yang berani tampil mulai bergerak, meski jumlahnya hanya belasan dari hampir seribu dosen di kampus tersebut. Tapi semangat tak diukur dari jumlah, melainkan dari nyala tekad yang tak padam. Dalam satu aksi kecil, seorang dosen berdiri di barisan terdepan, tak menyangka aksinya itu direkam dan kemudian tersebar. Beberapa hari kemudian, ia bercerita kepada temannya, sambil menahan rasa cemas: "Kenapa aku bisa seberani itu?" Di balik keberaniannya, ada rasa takut, tapi juga harapan.

Para dosen tidak mengharapkan tepuk tangan. Mereka bergerak karena nurani mereka terusik. Dengan dana seadanya hasil sumbangan teman-teman sejawat, mereka bersiap menuju Jakarta, tempat aspirasi nasional biasa disuarakan. Mereka tidak membawa spanduk mewah atau alat pengeras suara yang megah. Hanya semangat, keyakinan, dan ketulusan sebagai tenaga pendidik yang berharap didengar oleh mereka yang berkuasa.

Mereka menyadari bahwa perjuangan ini mungkin panjang dan berliku. Tapi bukan berarti mereka menyerah. Mereka mulai mengetuk pintu-pintu yang bisa membuka harapan. Salah satunya adalah dengan menghubungi anggota DPR asal Aceh, agar tuntutan mereka bisa disuarakan di sidang parlemen. Dengan semangat membara, sang wakil rakyat itu memperjuangkan aspirasi para dosen dengan suara lantang, hingga membuat anggota DPR dari daerah lain terkejut mendengar keberanian dan ketegasannya dalam membela hak-hak para pendidik bangsa.

Apa yang dilakukan para dosen adalah bentuk cinta terhadap profesinya. Mereka bukan sekadar menuntut tukin, mereka sedang menjaga martabat pendidikan tinggi di negeri ini. Bagaimana mungkin kita mengharapkan pendidikan berkualitas jika para pendidiknya sendiri harus merangkak memperjuangkan hak yang seharusnya sudah menjadi bagian dari kesejahteraan mereka?

Pemerintah dan institusi pendidikan tinggi harus membuka mata dan telinga. Jangan biarkan mereka yang mengabdi untuk mencerdaskan bangsa justru harus hidup dalam kecemasan dan ketidakpastian. Tuntutan para dosen ini bukan bentuk pembangkangan, tetapi seruan akan keadilan yang telah lama tertunda. Jika suara mereka terus diabaikan, jangan heran jika perlahan semangat itu akan padam—dan itu adalah kehilangan besar bagi negeri ini.

Mari kita akui, keberanian mereka untuk berdiri, meski hanya belasan, adalah cahaya kecil di tengah kelam. Mereka sedang mengajarkan kita satu pelajaran penting: bahwa dalam sunyi dan tekanan, perjuangan tetap harus hidup. Karena pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tapi juga tentang memperjuangkan kebenaran, bahkan ketika itu harus dimulai dari barisan paling depan.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya milik para dosen yang bersuara, tetapi juga milik kita semua. Sebab perjuangan untuk keadilan di sektor pendidikan adalah bagian dari perjuangan untuk masa depan bangsa. Dan semoga, di tengah arus ketidakpedulian, masih ada telinga yang mendengar, hati yang tergerak, dan tangan-tangan yang siap membantu mewujudkan perubahan yang hakiki.[]

×
Berita Terbaru Update